(catatan untuk menandai usia yang tiba hari ini )
Di usia belasan, menyebut angka 40 seperti menyebut sebuah tempat di ujung langit. Jauh nian. Banyak ruang yang membentang di antaranya. Tapi saat itu bukan masa untuk gentar. Masa itu adalah masa bermain. Masa mencoba segala sesuatu untuk menemukan jawab. Dan... ah, masa bodoh..... ini duniaku!
Lalu tahun-tahun kuliah tiba. Masa ini kutandai dengan menabrak banyak aturan. Setelah dua bulan kuliah saya pulang ke rumah ibu. Ah, ternyata kuliah begitu melelahkan. Tiga hari lewat. Ibuku tahu saya tak punya niat untuk kembali. Lalu ibu datang ke kamar dan mulai berbicara. “Entah berapa banyak anak seusiamu yang memimpikan kursi yang kau duduki di ruang kuliahmu di sana. Kesempatan itu diberi Tuhan untukmu. Tak layak disia-siakan.” Seperti itulah, kurang lebih.
Dua hari kupikirkan kata-kata ibu. Saya akhirnya sepakat tentang apa yang disebut ibu "kesempatan" itu. Tapi bunda, saya bukan anak tekun yang bisa duduk berjam-jam di depan meja dan terus belajar. Jika ada kegiatan di luar ruang kuliah, bolehkah saya memilih itu dan meninggalkan ruang kuliah?
Kurasa ibuku tak punya banyak pilihan ketika ia akhirnya setuju. Dan begitulah akhirnya kujalani masa kuliah. Dua minggu kuliah, sebulan menghilang. Banyak waktu dosenkulah yang menyeretku ke ruang kuliah (alangkah beruntungnya kuliah di fakultas dengan sedikit mahasiswa.... dosenku mengenalku juga mengenal semua temanku.)
Sekali waktu seorang dosen bertanya, “Tanra, jam berikut kuliahmu apa?” Saat itu jam peralihan kuliah. Saya hanya tersenyum. Sungguh, itu pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Saya tak hafal jadwal kuliah. Dan pagi sebelum menuju kampus, saya tak sempat melihat jadwal kuliah di hari itu. Dosenku itu menggeleng-gelengkan kepala. Dia memegang tanganku, lalu mulai “menyeretku.”
“Dia kenapa, Dok?” seorang seniorku bertanya ketika kami melintas.
“Dua minggu dia tak hadir di ruang kuliahku. Kali ini dia mesti hadir.” Dosenku menjawab. Saat itu saya tahu, apa artinya malu.
Tapi saya memang bebal. Saya tidak juga berubah rajin. Di masa pengisian KRS, saya akan membujuk dosen ketua jurusanku untuk tinggal lebih lama agar bisa kudapatkan tanda tangannya (kebanyakan dosenku masih muda, belum menikah, karenanya tak ada yang menunggu mereka di rumah). Mereka juga masih suka ngobrol ha ha hi hi bareng mahasiswanya hingga sore menyapa. Dan saya akan bergembira jika beberapa mahasiswa lagi turut dalam kerumunan dan mulai ikut ha ha hi hi... bersama kami.
Lalu sobatku, namanya Ira, datang (dia memang baik dan selalu datang di hari terakhir masa pengisian KRS. Dia tahu, hari itu saya butuh dia).
Jika tiba, tanpa berbicara dia akan meraih lembaran KRS di tanganku dan mulai menandai kuliah yang harus kuprogram. “Yang ini sudah. Kamu harus program yang ini... dan yang ini...dan yang ini... .”
“Thanks,” selesai sudah. Lalu kudapati ketua jurusanku membelalak gemas. Semester depan, kamu harus mengisi KRSmu sendiri, katanya.
Tuti, sobatku yang lain, boleh saja mengaku iri atas sekian banyak kosa kata yang bisa kususun menjadi cerita. Tapi sesungguhnya saya lah yang iri kepadanya dan kepada ribuan mahasiswa yang bisa begitu tekun belajar. Karena kudapati diriku sungguh tak layak disebut mahasiswa.
Meski berbagai aktivitas kampus kuikuti, banyak waktu di masa-masa itu saya memilih menepi untuk berbicara tentang kedalaman hati kepada Tuhan, juga kepada cermin. Saya malu berbicara tetang hati kepada sahabat. Karena hati memar tak layak dibagi. Dan biarlah kedalaman hati tetap berada di tempat yang tak terlihat. Jika sedang perih, perihnya harus dihadapi walau harus berbagi kepada cermin yang memantulkan bayangan sendiri.
Di waktu yang lain, saya suka "mengejar" berbagai senyum teduh milik ustadz, uztadsah.... kyai... untuk menikmati ketulusan dari keteduhan itu. Walau untuk itu, sekali lagi, saya harus menabrak aturan. Wajah sangar penuh curiga milik mereka yang berjubah panjang yang mengelilingi uztads atau kyai berwajah bening itu pasti menghadang niatku. Satu hal yang kuyakini, ketinggian ilmu sang kyai akan menempatkanku pada tempat yang layak. Jauh lebih layak dari tempat yang disediakan oleh wajah-wajah sangar tadi: makhluk penggoda (ah, mengapa terkadang saya merasa mereka jijik pada tubuh perempuan?).
Mereka melihat perempuan dari sisi yang mereka mau. Mereka lupa mahluk baik hati yang tidur di sisinya setiap malam berasal dari jenis yang sama. Mereka juga lupa dari rahim jenis inilah mereka menetas ke bumi. Dan apakah mereka tak takut pada Tuhan yang menciptakan perempuan? Bagaimana mereka mempertanggungjawabkan anggapan negatif mereka atas tubuh perempuan di hadapan Tuhan? Lagi pula, ah...tubuh mungilku yang lurus tanpa bentuk tak akan terlihat menggiurkan. Jika ada yang beranggapan seperti itu, otaknya mesti direparasi.
Jika berhasil akan kugenggam erat tangan uztads atau kyai itu. Kebanyakan mereka akan menggenggam tanganku dengan kedua tangan mereka lalu tersenyum dan bertanya, apa kabar? Saat itu akan menjadi saat-saat yang terbaik dalam hidupku. Saat yang menyenangkan untuk berkata, “Uztads..., doakanlah agar saya menjadi perempuan yang baik.” Mereka akan tersenyum dan mengangguk. Amin. Insyah Allah. Jawabnya. Dan hatiku riang. Sebuah doa dari hati bening telah kudapatkan.
Untuk kebiasaanku itu seorang teman mengejekku, kamu tak percaya doa sendiri. Saya tertawa. Saya percaya doa mereka, kataku.
Lalu kak Alam tiba. Dia menyodorkan tawaran yang kutanyakan kepada Tuhan. Haruskah kuhadapi? Tak mudah. Tuhan dan cermin sekali lagi menjadi penolong.
Lalu kupilih meninggalkan semua aktivitasku karena alasan sederhana. Saya tidak ingin berhadapan dengan konflik. Sebagai wartawan, saya tahu, kak Alam akan terus berpindah. Dan apa asyiknya sebuah perkawinan kau di sana dan saya di sini?
Tahun-tahun lewat. Tak benar jika sama sekali tak ada konflik. Tapi saya sudah meminimalisirnya dengan tidak menjadi siapa-siapa selain menjadi istrinya, ibu anak-anaknya dan (kalau dia tetap suka) menjadi kekasihnya. Selamanya. Jadi kurasa saya harus bersyukur kepada Allah atas semua ini.
Maka di sinilah saya kini, kawan. Empat puluh tahun usiaku hari ini.
Bolehkah pada kesempatan yang hanya datang sekali dalam hidupku ini saya meminta. Harapkanlah saya menjadi perempuan dan ibu yang baik. Lebih baik. Dan lebih baik lagi...
Di usia belasan, menyebut angka 40 seperti menyebut sebuah tempat di ujung langit. Jauh nian. Banyak ruang yang membentang di antaranya. Tapi saat itu bukan masa untuk gentar. Masa itu adalah masa bermain. Masa mencoba segala sesuatu untuk menemukan jawab. Dan... ah, masa bodoh..... ini duniaku!
Lalu tahun-tahun kuliah tiba. Masa ini kutandai dengan menabrak banyak aturan. Setelah dua bulan kuliah saya pulang ke rumah ibu. Ah, ternyata kuliah begitu melelahkan. Tiga hari lewat. Ibuku tahu saya tak punya niat untuk kembali. Lalu ibu datang ke kamar dan mulai berbicara. “Entah berapa banyak anak seusiamu yang memimpikan kursi yang kau duduki di ruang kuliahmu di sana. Kesempatan itu diberi Tuhan untukmu. Tak layak disia-siakan.” Seperti itulah, kurang lebih.
Dua hari kupikirkan kata-kata ibu. Saya akhirnya sepakat tentang apa yang disebut ibu "kesempatan" itu. Tapi bunda, saya bukan anak tekun yang bisa duduk berjam-jam di depan meja dan terus belajar. Jika ada kegiatan di luar ruang kuliah, bolehkah saya memilih itu dan meninggalkan ruang kuliah?
Kurasa ibuku tak punya banyak pilihan ketika ia akhirnya setuju. Dan begitulah akhirnya kujalani masa kuliah. Dua minggu kuliah, sebulan menghilang. Banyak waktu dosenkulah yang menyeretku ke ruang kuliah (alangkah beruntungnya kuliah di fakultas dengan sedikit mahasiswa.... dosenku mengenalku juga mengenal semua temanku.)
Sekali waktu seorang dosen bertanya, “Tanra, jam berikut kuliahmu apa?” Saat itu jam peralihan kuliah. Saya hanya tersenyum. Sungguh, itu pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Saya tak hafal jadwal kuliah. Dan pagi sebelum menuju kampus, saya tak sempat melihat jadwal kuliah di hari itu. Dosenku itu menggeleng-gelengkan kepala. Dia memegang tanganku, lalu mulai “menyeretku.”
“Dia kenapa, Dok?” seorang seniorku bertanya ketika kami melintas.
“Dua minggu dia tak hadir di ruang kuliahku. Kali ini dia mesti hadir.” Dosenku menjawab. Saat itu saya tahu, apa artinya malu.
Tapi saya memang bebal. Saya tidak juga berubah rajin. Di masa pengisian KRS, saya akan membujuk dosen ketua jurusanku untuk tinggal lebih lama agar bisa kudapatkan tanda tangannya (kebanyakan dosenku masih muda, belum menikah, karenanya tak ada yang menunggu mereka di rumah). Mereka juga masih suka ngobrol ha ha hi hi bareng mahasiswanya hingga sore menyapa. Dan saya akan bergembira jika beberapa mahasiswa lagi turut dalam kerumunan dan mulai ikut ha ha hi hi... bersama kami.
Lalu sobatku, namanya Ira, datang (dia memang baik dan selalu datang di hari terakhir masa pengisian KRS. Dia tahu, hari itu saya butuh dia).
Jika tiba, tanpa berbicara dia akan meraih lembaran KRS di tanganku dan mulai menandai kuliah yang harus kuprogram. “Yang ini sudah. Kamu harus program yang ini... dan yang ini...dan yang ini... .”
“Thanks,” selesai sudah. Lalu kudapati ketua jurusanku membelalak gemas. Semester depan, kamu harus mengisi KRSmu sendiri, katanya.
Tuti, sobatku yang lain, boleh saja mengaku iri atas sekian banyak kosa kata yang bisa kususun menjadi cerita. Tapi sesungguhnya saya lah yang iri kepadanya dan kepada ribuan mahasiswa yang bisa begitu tekun belajar. Karena kudapati diriku sungguh tak layak disebut mahasiswa.
Meski berbagai aktivitas kampus kuikuti, banyak waktu di masa-masa itu saya memilih menepi untuk berbicara tentang kedalaman hati kepada Tuhan, juga kepada cermin. Saya malu berbicara tetang hati kepada sahabat. Karena hati memar tak layak dibagi. Dan biarlah kedalaman hati tetap berada di tempat yang tak terlihat. Jika sedang perih, perihnya harus dihadapi walau harus berbagi kepada cermin yang memantulkan bayangan sendiri.
Di waktu yang lain, saya suka "mengejar" berbagai senyum teduh milik ustadz, uztadsah.... kyai... untuk menikmati ketulusan dari keteduhan itu. Walau untuk itu, sekali lagi, saya harus menabrak aturan. Wajah sangar penuh curiga milik mereka yang berjubah panjang yang mengelilingi uztads atau kyai berwajah bening itu pasti menghadang niatku. Satu hal yang kuyakini, ketinggian ilmu sang kyai akan menempatkanku pada tempat yang layak. Jauh lebih layak dari tempat yang disediakan oleh wajah-wajah sangar tadi: makhluk penggoda (ah, mengapa terkadang saya merasa mereka jijik pada tubuh perempuan?).
Mereka melihat perempuan dari sisi yang mereka mau. Mereka lupa mahluk baik hati yang tidur di sisinya setiap malam berasal dari jenis yang sama. Mereka juga lupa dari rahim jenis inilah mereka menetas ke bumi. Dan apakah mereka tak takut pada Tuhan yang menciptakan perempuan? Bagaimana mereka mempertanggungjawabkan anggapan negatif mereka atas tubuh perempuan di hadapan Tuhan? Lagi pula, ah...tubuh mungilku yang lurus tanpa bentuk tak akan terlihat menggiurkan. Jika ada yang beranggapan seperti itu, otaknya mesti direparasi.
Jika berhasil akan kugenggam erat tangan uztads atau kyai itu. Kebanyakan mereka akan menggenggam tanganku dengan kedua tangan mereka lalu tersenyum dan bertanya, apa kabar? Saat itu akan menjadi saat-saat yang terbaik dalam hidupku. Saat yang menyenangkan untuk berkata, “Uztads..., doakanlah agar saya menjadi perempuan yang baik.” Mereka akan tersenyum dan mengangguk. Amin. Insyah Allah. Jawabnya. Dan hatiku riang. Sebuah doa dari hati bening telah kudapatkan.
Untuk kebiasaanku itu seorang teman mengejekku, kamu tak percaya doa sendiri. Saya tertawa. Saya percaya doa mereka, kataku.
Lalu kak Alam tiba. Dia menyodorkan tawaran yang kutanyakan kepada Tuhan. Haruskah kuhadapi? Tak mudah. Tuhan dan cermin sekali lagi menjadi penolong.
Lalu kupilih meninggalkan semua aktivitasku karena alasan sederhana. Saya tidak ingin berhadapan dengan konflik. Sebagai wartawan, saya tahu, kak Alam akan terus berpindah. Dan apa asyiknya sebuah perkawinan kau di sana dan saya di sini?
Tahun-tahun lewat. Tak benar jika sama sekali tak ada konflik. Tapi saya sudah meminimalisirnya dengan tidak menjadi siapa-siapa selain menjadi istrinya, ibu anak-anaknya dan (kalau dia tetap suka) menjadi kekasihnya. Selamanya. Jadi kurasa saya harus bersyukur kepada Allah atas semua ini.
Maka di sinilah saya kini, kawan. Empat puluh tahun usiaku hari ini.
Bolehkah pada kesempatan yang hanya datang sekali dalam hidupku ini saya meminta. Harapkanlah saya menjadi perempuan dan ibu yang baik. Lebih baik. Dan lebih baik lagi...
Doakanlah saya agar menjadi perempuan yang “indah”.
Salam
tanra
Salam
tanra
