Sabtu, 26 September 2009

40 tahun.... angka itu kujejak kini...

(catatan untuk menandai usia yang tiba hari ini )

Di usia belasan, menyebut angka 40 seperti menyebut sebuah tempat di ujung langit. Jauh nian. Banyak ruang yang membentang di antaranya. Tapi saat itu bukan masa untuk gentar. Masa itu adalah masa bermain. Masa mencoba segala sesuatu untuk menemukan jawab. Dan... ah, masa bodoh..... ini duniaku!

Lalu tahun-tahun kuliah tiba. Masa ini kutandai dengan menabrak banyak aturan. Setelah dua bulan kuliah saya pulang ke rumah ibu. Ah, ternyata kuliah begitu melelahkan. Tiga hari lewat. Ibuku tahu saya tak punya niat untuk kembali. Lalu ibu datang ke kamar dan mulai berbicara. “Entah berapa banyak anak seusiamu yang memimpikan kursi yang kau duduki di ruang kuliahmu di sana. Kesempatan itu diberi Tuhan untukmu. Tak layak disia-siakan.” Seperti itulah, kurang lebih.

Dua hari kupikirkan kata-kata ibu. Saya akhirnya sepakat tentang apa yang disebut ibu "kesempatan" itu. Tapi bunda, saya bukan anak tekun yang bisa duduk berjam-jam di depan meja dan terus belajar. Jika ada kegiatan di luar ruang kuliah, bolehkah saya memilih itu dan meninggalkan ruang kuliah?

Kurasa ibuku tak punya banyak pilihan ketika ia akhirnya setuju. Dan begitulah akhirnya kujalani masa kuliah. Dua minggu kuliah, sebulan menghilang. Banyak waktu dosenkulah yang menyeretku ke ruang kuliah (alangkah beruntungnya kuliah di fakultas dengan sedikit mahasiswa.... dosenku mengenalku juga mengenal semua temanku.)

Sekali waktu seorang dosen bertanya, “Tanra, jam berikut kuliahmu apa?” Saat itu jam peralihan kuliah. Saya hanya tersenyum. Sungguh, itu pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Saya tak hafal jadwal kuliah. Dan pagi sebelum menuju kampus, saya tak sempat melihat jadwal kuliah di hari itu. Dosenku itu menggeleng-gelengkan kepala. Dia memegang tanganku, lalu mulai “menyeretku.”

“Dia kenapa, Dok?” seorang seniorku bertanya ketika kami melintas.
“Dua minggu dia tak hadir di ruang kuliahku. Kali ini dia mesti hadir.” Dosenku menjawab. Saat itu saya tahu, apa artinya malu.

Tapi saya memang bebal. Saya tidak juga berubah rajin. Di masa pengisian KRS, saya akan membujuk dosen ketua jurusanku untuk tinggal lebih lama agar bisa kudapatkan tanda tangannya (kebanyakan dosenku masih muda, belum menikah, karenanya tak ada yang menunggu mereka di rumah). Mereka juga masih suka ngobrol ha ha hi hi bareng mahasiswanya hingga sore menyapa. Dan saya akan bergembira jika beberapa mahasiswa lagi turut dalam kerumunan dan mulai ikut ha ha hi hi... bersama kami.

Lalu sobatku, namanya Ira, datang (dia memang baik dan selalu datang di hari terakhir masa pengisian KRS. Dia tahu, hari itu saya butuh dia).

Jika tiba, tanpa berbicara dia akan meraih lembaran KRS di tanganku dan mulai menandai kuliah yang harus kuprogram. “Yang ini sudah. Kamu harus program yang ini... dan yang ini...dan yang ini... .”

“Thanks,” selesai sudah. Lalu kudapati ketua jurusanku membelalak gemas. Semester depan, kamu harus mengisi KRSmu sendiri, katanya.

Tuti, sobatku yang lain, boleh saja mengaku iri atas sekian banyak kosa kata yang bisa kususun menjadi cerita. Tapi sesungguhnya saya lah yang iri kepadanya dan kepada ribuan mahasiswa yang bisa begitu tekun belajar. Karena kudapati diriku sungguh tak layak disebut mahasiswa.

Meski berbagai aktivitas kampus kuikuti, banyak waktu di masa-masa itu saya memilih menepi untuk berbicara tentang kedalaman hati kepada Tuhan, juga kepada cermin. Saya malu berbicara tetang hati kepada sahabat. Karena hati memar tak layak dibagi. Dan biarlah kedalaman hati tetap berada di tempat yang tak terlihat. Jika sedang perih, perihnya harus dihadapi walau harus berbagi kepada cermin yang memantulkan bayangan sendiri.

Di waktu yang lain, saya suka "mengejar" berbagai senyum teduh milik ustadz, uztadsah.... kyai... untuk menikmati ketulusan dari keteduhan itu. Walau untuk itu, sekali lagi, saya harus menabrak aturan. Wajah sangar penuh curiga milik mereka yang berjubah panjang yang mengelilingi uztads atau kyai berwajah bening itu pasti menghadang niatku. Satu hal yang kuyakini, ketinggian ilmu sang kyai akan menempatkanku pada tempat yang layak. Jauh lebih layak dari tempat yang disediakan oleh wajah-wajah sangar tadi: makhluk penggoda (ah, mengapa terkadang saya merasa mereka jijik pada tubuh perempuan?).

Mereka melihat perempuan dari sisi yang mereka mau. Mereka lupa mahluk baik hati yang tidur di sisinya setiap malam berasal dari jenis yang sama. Mereka juga lupa dari rahim jenis inilah mereka menetas ke bumi. Dan apakah mereka tak takut pada Tuhan yang menciptakan perempuan? Bagaimana mereka mempertanggungjawabkan anggapan negatif mereka atas tubuh perempuan di hadapan Tuhan? Lagi pula, ah...tubuh mungilku yang lurus tanpa bentuk tak akan terlihat menggiurkan. Jika ada yang beranggapan seperti itu, otaknya mesti direparasi.

Jika berhasil akan kugenggam erat tangan uztads atau kyai itu. Kebanyakan mereka akan menggenggam tanganku dengan kedua tangan mereka lalu tersenyum dan bertanya, apa kabar? Saat itu akan menjadi saat-saat yang terbaik dalam hidupku. Saat yang menyenangkan untuk berkata, “Uztads..., doakanlah agar saya menjadi perempuan yang baik.” Mereka akan tersenyum dan mengangguk. Amin. Insyah Allah. Jawabnya. Dan hatiku riang. Sebuah doa dari hati bening telah kudapatkan.


Untuk kebiasaanku itu seorang teman mengejekku, kamu tak percaya doa sendiri. Saya tertawa. Saya percaya doa mereka, kataku.

Lalu kak Alam tiba. Dia menyodorkan tawaran yang kutanyakan kepada Tuhan. Haruskah kuhadapi? Tak mudah. Tuhan dan cermin sekali lagi menjadi penolong.

Lalu kupilih meninggalkan semua aktivitasku karena alasan sederhana. Saya tidak ingin berhadapan dengan konflik. Sebagai wartawan, saya tahu, kak Alam akan terus berpindah. Dan apa asyiknya sebuah perkawinan kau di sana dan saya di sini?

Tahun-tahun lewat. Tak benar jika sama sekali tak ada konflik. Tapi saya sudah meminimalisirnya dengan tidak menjadi siapa-siapa selain menjadi istrinya, ibu anak-anaknya dan (kalau dia tetap suka) menjadi kekasihnya. Selamanya. Jadi kurasa saya harus bersyukur kepada Allah atas semua ini.

Maka di sinilah saya kini, kawan. Empat puluh tahun usiaku hari ini.
Bolehkah pada kesempatan yang hanya datang sekali dalam hidupku ini saya meminta. Harapkanlah saya menjadi perempuan dan ibu yang baik. Lebih baik. Dan lebih baik lagi...
Doakanlah saya agar menjadi perempuan yang “indah”.

Salam
tanra

Selasa, 22 September 2009

Perempuan di Senja Losari

Cerpen TanraLam
Pada setiap detak senja perempuan itu datang ke pantai ini menatap camar. Matanya mengabarkan rindu. Aku selalu ingin masuk ke dalam mata itu untuk tahu, apa yang membuatnya sarat rindu. Tapi perempuan itu tak mengenalku. Ia tak tahu, puluhan senja telah kulewati bersamanya. Memperhatikan matanya yang selalu beriak dalam banyak warna. Gemerlap lalu kelam yang tiba silih berganti seperti gulungan ombak.
Aku ingin ia tahu bahwa aku ada. Tetapi setiap kali langkahku terayun mendekatinya, setiap kali itu pula kutipu diriku dengan berbisik, ini bukan saat yang tepat. Tunggulah beberapa senja lagi. Aku memang pengecut. Tapi tak akan lagi kubiarkan senja di hari ini menghalangi langkahku.
Kutunggu hingga pengamen kecil dengan suara indah datang menghampiri perempuan itu. Aku tahu anak itu akan menyanyikan lagu yang sama seperti pada puluhan senja yang lewat..
“Apakah kau menantikan seseorang?” Aku menyapanya ketika senyum pengamen kecil itu merekah saat menerima usapan lembut di kepalanya. Upah untuk suara merdunya.
Perempuan itu mendongak terkejut. Ia menatapku tajam. Sinar di matanya membuatku merasa begitu bodoh memperkenalkan diri dengan cara yang tidak lazim. Ah, seharusnya kusebutkan namaku.
“Saya Kemal. Tahukah kau, puluhan senja telah kulewati bersamamu?”
Sudah tentu dia tak tertarik. Benar-benar cara berkenalan yang bodoh. Aku yakin ia bahkan tidak mendengarkan kata-kataku. Aku melihatnya kembali membelai kepala pengamen kecil itu. Bibirnya mengukir senyum tulus ketika berkata terima kasih. Bocah itu mengangguk riang lalu pergi.
Aku masih berbicara dan berharap ia tertarik dan menjawabku. Senja berubah malam ketika aku sadar, aku hanya berbicara kepada angin yang bertiup tajam. Perempuan itu membisu. Lewat sedikit cahaya yang terpantul dari gerobak penjual pisang epek yang mangkal tak jauh dari kami, kulihat matanya. Mata itu tak ada di pantai ini. Mengembara entah ke dunia mana.
Dua puluh senja berikutnya baru aku tahu. Namanya Sinagu.
“Mengapa kau begitu ingin tahu?” Ia menyalak ketika dengan halus kudesak untuk mengatakan siapa namanya. Ia bahkan tak memberiku kesempatan memujinya dengan berkata bahwa namanya indah. Ia menyebutnya dengan begitu terpaksa. Seolah ingin berkata. Nah, sekarang kamu tahu, maka diamlah! Bagaimanapun, senja itu akhirnya memberiku sepotong nama.
Lima puluh senja. Aku mendapatkan senyumnya. Samar.
Senja yang ke tujuh puluh dua ketika ia bertanya, “Apa yang ingin kamu ketahui?”
Aku baru saja duduk di sampingnya dan terpesona mendapatkan pertanyaan itu. Ini pertama kali ia memulai percakapan dengan pertanyaan yang tak tahu harus kujawab apa. Apa yang ingin aku ketahui? Setelah begitu banyak senja kulewati bersamanya, aku tak lagi tahu apa yang ingin kuketahui tentang dia.
Ketika pertama kali melihatnya, aku tertarik pada kelam matanya yang menatap senja direngkuh malam. Gerak halus tubuhnya seolah berkata, sehari lewat lagi, apakah engkau besok tiba? Senja setelah itu sambil memperhatikan matanya yang menatap lekat ke arah sebuah perahu yang berlayar pulang, aku mulai bertanya-tanya, siapa yang sedang ia nanti?
“Aku menunggu kekasih.” Senja ke tujuh puluh sembilan. Aku tak bertanya. Ia berkata begitu saja.
“Ia berjanji akan pulang dengan sebuah perahu yang berisi cinta untukku.” Tawaku nyaris pecah. Mengapa ia begitu lugu. Siapa lelaki yang begitu tega memberinya janji yang serupa mimpi?
“Jangan tertawa,” suaranya menyentak. Aku tergagap. Rupanya dia tahu aku ingin tertawa. Ketika ia menoleh dan menatapku, aku menggeleng cepat. Kubiarkan dia menguliti kejujuranku.
“Kamu memang tertawa,” katanya muram. Aku gelagapan. Ingin kukatakan sesuatu, tapi tatapannya menghancurkan semua kata yang terserak di ujung lidahku.
“Mestinya tanah ini memberikan kehidupan kepadanya sehingga ia tak perlu mencarinya hingga ke daratan lain yang bukan miliknya.” Senja ke delapan puluh. Ia berkata begitu ketika dengan berani kutanyakan kenapa kekasihnya pergi.
“Kita mengeluhkan semua hal yang ada di negeri ini. Tak ada pekerjaan. Pemimpin yang bukan negarawan dan asyik menghibur diri sendiri. Politisi-politisi yang mencoba terlihat pintar lalu mengumbar ribuan janji karena tidak pandai bekerja. Pada akhirnya semua itu menjadi bagitu membosankan hingga kita tidak lagi perduli. Dia memutuskan pergi.”
“Dan kamu menunggunya?”
Sinagu mengangguk. “Aku berjanji untuk menunggunya.” Suaranya menembus langit.
“Begitu berartikah dia?”
Astaga, seharusnya aku menghiburnya. Pertanyaan bodoh! Tentu saja lelaki itu sangat berarti untuknya. Kalau tidak, untuk apa ia menunggu?
“Dia membawa hatiku,” ia menjawab. Suaranya mengalun rindu.
Nah, apa yang harus kukatakan. Jawaban itu membuatku perih. Sinagu tak tahu, pada setiap senja yang kulewati bersamanya, sekerat demi sekerat hatiku ikut bersama langkahnya menuju pulang.
“Jangan cengeng!” Aku mencoba tidak memikirkan suranya yang merindu. Tetapi aku memang bodoh. Mengapa kukatakan itu karena yang kudapatkan darinya adalah jawaban yang menikam tajam.
“Kenapa kejujuran berarti cengeng?” Suranya bagai awan kelam yang menjanjikan badai.
Beberapa senja setelah itu ia menghilang. Sekali lagi aku mengutuki kebodohanku. Kenapa begitu puas hanya dengan tahu sepotong namanya. Setidaknya tanyakanlah tempat tinggalnya.
Tiga senja setelah ia menghilang, aku sadar aku merasa kehilangan. Aku merindukan kelam matanya saat menatap camar. Rindu pada keterusterangannya yang tak terduga. Rindu pada siluet tubuhnya dalam remang senja. Tanpa dia, senja di Pantai Losari ini menjadi berbeda.
Aku getir karena sadar, kini akulah lelaki yang merindu.
Seminggu kemudian Sinagu kembali. Dari jauh aku melihatnya menatap camar. Perasaan bahagia membuat hatiku hangat. Langkahku seperti berkejaran mendekatinya.
“Hai....,” suaraku pelan menyapa. Dia menoleh. Tanpa canggung ia menatap tepat di manik mataku, menyusuri tiap inci wajahku. Lama. Lalu bibirnya mengukir senyum.
“Merindukanku?”
Nah, kan. Coba dengar dia sama sekali tak punya basa-basi. Tentu saja aku merindukannya. Hanya saja aku tak ingin dia mendapatkan pengakuan itu.
“Tidak.” Aku berdusta. “Tak mau aku merindukan perempuan sepertimu.”
Dia tertawa. Aku senang mendengar tawanya. Rasanya seperti sedang melahap kerupuk kentang yang garing renyah gurih.
“Aku baru tahu, lelaki juga bisa malu mengakui perasaannya.” Matanya bersinar jenaka ketika menambahkan, “Matamu mengatakan semuanya.”
Aku bisa apa, ia tahu aku bohong. Aku hanya ingin mengelak sebisa mungkin.
“Tak ada alasan untuk merindukanmu. Aku bahkan cuma tahu namamu. Selebihnya kamu hanyalah makhluk asing yang muncul dari kedalaman laut. Sesuatu yang asing, tak bisa menumbuhkan rasa rindu,” sangkalku.
Sinagu diam. Kejenakaan yang sesaat tadi tergambar di matanya menghilang. Aku menyesal membuatnya murung. Akan kuralat ucapanku.
“Aku memang merindukanmu.”
Kukira aku mengatakannya dengan suara pelan. Tapi kenapa ia tampak begitu terkejut?
“Aku merindukan kelam matamu. Rindu pada diammu. Aku bahkan merindukan apapun yang ada pada dirimu.” Begitu melegakan mengatakan semuanya. Sinagu tak berkata apa-apa. Senja itu kami lewati dalam bisu.
Besoknya Sinagu berkata, jangan merindukanku. Aku tak bisa membagi hatiku kepada dua lelaki. Aku ingin mendebatnya. Tapi Sinagu hanya datang untuk mengatakan hal itu. Selepas berucap ia berbalik pergi. Aku mengikutinya, meraih dan menggenggam erat tangannya.
“Jangan pergi. Senja belum usai.”
Sinagu menggeleng, dengan halus ia membebaskan tangannya. Aku merasa aneh karena tiba-tiba menjadi panik. Apakah ia akan datang besok?
“Tinggallah, jangan pergi.” Aku membujuk lagi. Ia menggeleng.
“Katakan di mana aku bisa menemuimu?” Kucoba cara lain. Sinagu memberiku seulas senyum ketika menjawab.
“Kamu sudah mengatakannya. Di kedalaman laut!” Ia pergi begitu saja.
Tapi senja berikutnya Sinagu datang lagi. Aku hampir bersorak ketika melihatnya duduk mencakung di tanggul pantai dengan mata yang menembus langit.
“Aku hanya ingin mencintai Baso.” Aku baru saja duduk di sampingnya ketika ia berkata itu.
“Aku tahu lelaki suka yang misterius. Itu menantang rasa ingin tahu. Ketika kemisteriusan tak terkuak, ia merasa diremehkan. Ketika tanyanya memperoleh jawab, harga dirinya pulih. Itu alasan yang bagus untuk mendapatkan apa saja.”
Aku terperangah. Seperti itukah aku di matanya. Aku tidak begitu, kudebat dia. Sinagu tak perduli.
“Aku tidak ingin terlihat misterius dan menggelitik tanyamu. Aku datang ke pantai ini karena di sinilah aku melepas Baso pergi.” Aku mencemburui nama itu.
“Aku hanya punya satu hati, dia membawanya.” Sinagu menjawab kecemburuanku dengan penjelasan yang memerihkan otak. Aku tak siap, sebentar lagi dadaku meledak.
“Kapan ia kembali?” Aku malu setelah menanyakannya.
“Tak tahu.” Kulihat sendu di getar bibirnya
Senja itu adalah senja terakhirku berbincang dengannya. Sinagu memintaku tak lagi menjadi bagian dari senja penantiannya. Tentu saja aku tak mau. Tidak bisa! Mana mungkin? Keterlaluan! Permintaan yang tidak masuk akal! Kumuntahkan semua keberatanku.
“Kau akan terluka,” katanya membujuk. “Aku tahu pedihnya merindu.”
***
Mengapa hati bisa sangat senyap padahal senja di Pantai Losari begitu bingar? Dengarlah musik yang riuh bersahutan dari gerobak-gerobak penjajah makanan yang berjejer panjang. Atau lihatlah wajah-wajah cerah berpasang kekasih yang duduk merajut cinta di tanggulnya yang panjang. Dan mengapa aku selalu iri kepada laut yang memerah bahagia merengkuh matahari yang berubah senja? Dan mengapa rindu bisa begitu perih?
Aku Sinagu. Perempuan yang mendatangi senja menanti janji. Tapi Detak waktu yang iri tidak berpihak kepadaku.. Ia merampas Baso lewat reruntuhan bangunan yang melumatkan tubuhnya. Kabar itu juga melumatkan impian masa depanku. Janji Baso tak akan tiba. Tapi tak apa, aku tetap rindu kepadanya.
Kudekap tubuhku menghalau angin yang bertiup dingin memerihkan kulit. Di kemerahan senja seekor camar terbang menukik. Mendekat, terbang berputar lalu melayang pergi. Di kejauhan ada perahu yang berlayar pulang. Mungkin untuk menemukan cinta, barangkali untuk menuntaskan rindu.
Pengamen kecil bertopi lusuh sahabat kecilku mendekat. Dalam pelukan tangannya yang kurus, ada gitar tua yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Dia membujukku untuk mendengarkan lagu cinta. Aku tersenyum dan menggeleng. Tahukah kau lagu tentang rindu? Aku bertanya.
Anak kecil tersenyum lalu berdendang:
Labuni essoE
Turunni uddaniE
Wettunnani massenge ritau mabelaE
Mabelani laona
Tengnginanna takdewe’
Tekkarebanna pole
Teppasenna pole........*)
Anak kecil itu terus bernyanyi. Aku menegakkan wajah. Membetulkan letak rambut yang tersibak angin. Di langit seekor camar kembali mendekat. Mungkin camar yang tadi. Mungkin camar yang berbeda. Tak ada yang benar-benar tahu.
Kepada camar itu aku berbisik, aku datang ke pantai ini untuk mengabarkan rindu. Dapatkah kau membawa pergi hingga ke ujung langit dan menyampaikan rindu yang dititipkan dalam kepak sayapmu?
(dan tolong jangan katakan kepada Kemal, Baso tak akan pernah kembali. Aku tahu dia masih suka memandangiku dari jauh).
Camar itu melayang pergi.
Tak kembali lagi.
***
*) Saat mentari kembali ke paraduan
Rindu pun datang menyergap
Teringatlah kepada
mereka yang jauh di rantau
Jauh nian dalam perjalanan
Tanpa niatan untuk kembali
Tak ada kabar beritanya
Tak ada pesan yang datang
(lagu rakyat Bugis)

Senin, 21 September 2009

Mengantar Ippang (Insyah Allah) menjadi Dewasa....

Namanya sesungguhnya Irfan, lengkapnya Irfan Hardiansyah Iskandar. Tapi seperti kebanyakan yang lain, nama itu kemudian akan segera meleset karena lidah Irfan kecil tak bisa menyebut namanya dengan benar. Lalu kita yang lebih besar latah mengikuti dia dalam menyebut dirinya, lalu menjelma Ippang.

Itu bertahun lalu. Tahun ini Ippang mulai menapaki kehidupannya sebagai lelaki yang menuju dewasa. Dari pengawasan penuh orang tua (ibu bapaknya, om dan juga tante-tantenya) ia melangkah menjauh ke kota baru tempat ia mulai menuntut ilmu pada sebuah perguruan tinggi.

Adikku yang pertama kuatir. Ia tak ingin ponakannya silau pada kehidupan baru yang mungkin penuh dengan "pameran" benda-benda mahal yang melekat pada diri kenalan atau teman-teman barunya. "Ah, dia mulai berbicara tentang Hp mahal dan mobil bermerek," kata adikku. "Ayo, berbicaralah padanya," desaknya. Mereka tengah berkumpul pada hari Idul Fitri kemarin, dan adikku lewat telepon menceritakan perubahan itu.

Ippang bukan seseorang yang gampang silau. Selama ini Hp baginya hanya alat untuk berkomunikasi. Ia tak protes hanya diberi Hp seharga ratusan ribu sementara dalam genggaman kakaknya ada Hp keluaran baru dari merek ternama (kesederhaan itu diam-diam kami kagumi dan syukuri pada diri Ippang). Hanya sebulan lebih ia meninggalkan rumah lalu pulang untuk merayakan Idul Fitri bersama. Tapi kenapa kini ia mulai berbicara tentang benda-benda dan bukan isi kepalanya seperti yang selama ini ia lakukan? Rasanya menjadi sangat pantas adikku mulai kuatir.

Ippang sayang.... ayo lihat dirimu. Tidakkah dulu kau melihat semua yang mulai kau kagumi sekarang hanya benda semata-mata? Sungguh di usiamu sekarang (semoga juga nanti), jangan silau pada semua itu. Tetaplah jadi Ippang yang mengagungkan isi kepalanya dan menjaga ketulusan hatinya.

Kuberi tahu sebuah argumen dari seorang teman. Katanya, kategorisasi seorang anak muda (usia sekolah/mahasiswa) yang bermobil pribadi sangat jelas. Pertama, ia memang sudah kaya dari sononya. Kedua, orang tuanya pedagang sukses. Ketiga, kalau tidak keduanya, sangat mungkin itu hasil korupsi. Nah?!

Kau Ippang sayangku, tidak berasal dari dua kategori awal. Jadi jangan menjebak papamu untuk masuk ke kategori ke-3.

Kuceritakan hal lain. Bertahun lalu ketika om Alam ditugasi meliput dunia pendidikan di Korea Selatan, om Alam memberikan oleh-oleh sebuah cerita tentang cara pandang masyarakat di negara industri itu. Mereka melihat segala produk termasuk elektronik benar-benar dari fungsi semata. "Hp mereka buluk, kebanyakan mulai terkelupas. Tapi mereka tak perduli. Fungsinyalah yang penting". Begitu om Alam berkisah.

Saat itu rasanya malu sekali karena mendapati sebuah Hp yang lumayan bagus tengah kugenggam. Korea Ippang sayang, sebuah negara industri dengan berbagai produk (sebut di antaranya Samsung, LG ) yang menyerbu kita.

Ayo, Ippang. Lihat perangai bangsa ini ( kau mulai dewasa, maka keluarlah dari dirimu dan mulailah lihat bangsa ini). Apapun produk yang dilempar ke pasar kita, serta merta kita dengan suka cita menyambutnya. HP, mobil dan semuanya... Kita tidak pernah sadar, negara industri itu dengan berbagai cara membuat bangsa dengan 200 juta lebih penduduknya ini membeli produk mereka. Lalu mengalirlah rupiah kita ke sana meninggalkan jejak ketertinggalan yang makin parah pada negeri ini. Miskin dan kalang-kabut mencari pinjaman luar negeri.

Jangan mau Ippang sayang "dijajah" dengan cara baru seperti itu. Banggalah pada dirimu, isi kepalamu dan kebeningan hatimu. Lalu mulailah "tulari" sekelilingmu dengan sikap enggan membeli sesuatu yang hanya membuat bangsa ini menjad i "mangsa" pasar bangsa lain.

Kembalilah melihat itu semua hanya benda. Seperti halnya pakaian yang akhirnya lusuh dan kita butuh yang lain untuk melindungi tubuh kita. Tapi isi kepalamu tak akan lusuh. Pada saatnya nanti dia akan bersinar. Tidak hanya untukmu tapi semoga juga untuk bangsa ini.

Jika segala benda yang melekat pada teman barumu seumpama lampu neon yang benderang dan menyilaukan mata, maka kamu cukup menjadi lilin. Sederhana dengan cahaya yang lebih bersahabat.
Puluhan neon di ruang yang sama, maka kita tidak lagi bisa membedakan asal cahayanya. Tapi sebuah lilin pada kebenderangan itu tetap saja ada dan terlihat, meski ia hanya menyala di pojok ruang.

Kami antarkan kau hari ini ke langkah berikutmu. Semoga kau menjadi lelaki yang bermartabat yang bangga pada diri sendiri, pada isi benakmu, pada bening hatimu, bukan pada assesori yang melekat di tubuhmu.

Kami semua sayang padamu.....
Buat dirimu kelak bangga pada keputusan dan langkah awal yang kau ambil hari ini...