Senin, 12 Oktober 2009

Pahlawan Negeri, Lupakah Kau Mewasiatkan untuk Mencintai Indonesia Tanpa Syarat?

Saat belajar di bangku sekolah dasar, rasanya bangga menjadi anak Indonesia. Di buku-buku tertulis, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Negara yang kaya. Bangsa Bahari dengan kepiawaian menghadapi laut yang sulit mendapat tandingan. Bangsa dengan beragam budaya, bahasa, juga musik yang kaya. Ramah, berjiwa besar dan berhati mulia. Betapa megah Indonesia.

Lalu sekolah berlanjut dan buku pelajaran bertambah. Lho, negara besar ternyata bukan Indonesia. Kalau Indonesia negeri bahari, mengapa Angkatan Laut Inggris yang terbesar? Dan Amerika, mengapa bisa begitu pongah mengklaim diri sebagai polisi dunia? Dan jika Indonesia kaya dengan beragam budaya dan bahasa, mengapa Perancis lebih meriah dan bangga dengan bunyi sengau pada bahasa ibunya? Jika kaya, mengapa rakyat banyak yang melarat? Dan mengapa tak ada pemimpinnya yang mewarisi jiwa besar pahlawan bangsa ini? Buku-buku itu, tega benar menipuku.

Keterkejutan dan berbagai pertanyaan itu nyaris membuatku kecewa menjadi anak Indonesia. Lalu kulupakan semua puja-puji di buku itu dan mencoba melihat Indonesia dengan cara berbeda. Akhirnya kusadari, buku-buku itu tidak membangun kejujuran. Sejak kecil anak-anak negeri ini diberi mimpi tentang bangsa besar yang nyatanya tak benar.

Kesadaran atas tipisnya kejujuran di negeri ini akhirnya mengantar untuk maklum atas berbagai kecurangan yang terjadi. Kasus KPK yang merupakan puncak gunung es atas berbagai kasus korupsi dan ketidakadilan di negeri ini lalu terlihat wajar. Wajar, karena hampir semua kita dibesarkan dengan ketidakjujuran berbangsa.

Jepang, setelah dilululantakkan bom atom, dengan jujur mengakui negara mereka hancur lalu mencoba bangkit. Hasilnya sungguh menakjubkan. Kita lebih suka menganggap diri besar lalu terlena. Kita biarkan banyak perempuan muda, ibu dari dua tiga anak, istri yang tercinta, pulang dengan tubuh lumat dihajar majikan. Tanyakanlah pada anak SD sekarang, apa mereka tahu banyak perempuan di negerinya yang kaya ini menjadi tenaga kerja di luar negeri?

Kebanyakan mereka akan terperangah. Mungkin akan meneteskan air mata ketika tahu jumlah yang pulang tanpa nyawa. Kematian yang tak bisa dianugerahi gelar pahlawan meski menyumbang dana besar untuk negeri ini. Dan petinggi di negeri, sungguh, mereka tidak akan sibuk dengan urusan remeh perempuan yang mati. Mereka lebih suka menghitung rupiah untuk diri dan keluarga. Karena mereka bagian dari bangsa besar yang tak boleh terlihat melarat.

Saya membayangkan, andai buku-buku sejarah dan berbangsa kita dengan jujur mengingatkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang baru merintis kemerdekaan sekaligus memperlihatkan ketertinggalan kita atas banyak bangsa besar yang ratusan tahun lebih dahulu merdeka, rasanya hasilnya akan berbeda.

Tapi buku sejarah dan berbangsa telah tertulis, dan setiap kita sudah pernah melahapnya habis. Menyisakan ingatan indah tentang bangsa besar dan kaya. Kita enggan mengakui bahwa bangsa besar itu mungkin memang pernah dimiliki oleh sebagian kerajaan yang pernah ada di negeri ini. Kebesaran yang dengan sendirinya menguap ketika negeri ini 350 tahun lebih terjajah. Yang tersisa setelahnya adalah ketertinggalan, kemelaratan, dan kebodohan yang hampir menyentuh semua orang di negeri ini.

Setelah 64 tahun merdeka, kita masih tetap saja jadi bangsa yang bodoh. Apa pula sebutan yang lebih bagus bagi keserakahan yang tidak berujung yang terjadi pada beberapa petinggi di negeri ini? Tak ada orang pandai yang menepikan kalkulasi, bahwa dengan segudang uang yang ia timbun hanya akan mencerdaskan satu dua anak dan membiarkan jutaan yang lain tak bisa sekolah.

Jika pandai, kita tidak akan membiarkan diri dibodohi habis oleh skenario yang disusun sendiri dengan beberapa pandir lain agar bisa semakin kaya dan menghancurkan kemungkinan negaranya bergerak lebih maju.

Dengan berbagai kecurangan yang menghancurkan sendi negara ini, rasanya tak layak untuk merayakan hari pahlawan di hari ini. Hati seperti apa yang bisa menuntun kaki melangkah ke tempat peristirahatan terakhir mereka dan mengabarkan kehancuran negara ini?

Ah, pahlawan negeri, seharusnya kau tinggalkan wasiat untuk menjaga hati dan menebalkan rasa malu agar negeri ini bisa beranjak maju dan tidak hanya berkutat pada urusan kerakusan. Seharusnya kau tulis dengan tinta emas tentang keharusan mencintai negeri ini tanpa syarat.

Tentang kerakusan itu, kubisikkan, betapa banyak orang beberapa hari belakangan ini yang bersumpah demi Tuhan yang disembahnya bahwa mereka tak curang.

Bisakah kau kabarkan pada kami, adakah di antara mereka yang benar?

Anak Siap Ujian ??? [semoga] Ini caranya....

Kok judulnya serius banget ya? Abaikan judulnya.... (karena saya tak pandai memberi judul... he he he).

Awalnya kebiasaan Abi, anak saya ketika duduk di kelas I SD (sekarang kelas V). Waktu itu dia keranjingan mengerjakan semua soal di halaman buku matematikanya. Ketika habis dia minta dibuatkan beberapa soal lagi. Dari matematika, pindah ke pelajaran lain.

Karena keseringan dan pelajaran di buku paket hanya dari itu ke itu juga... akhirnya soal-soal itu saya ketik dalam format soal ujian. Isian dan multiplechoice... (biar nantinya bisa diulang tanpa harus ditulis ulang... kan pegal?)

Tanpa saya sangka cara ini ternyata menguntungkan. Saya tidak perlu susah payah meminta Abi untuk membuka halaman bukunya, karena dengan sendirinya dia akan membuka buku untuk menemukan jawaban yang belum terjawab.

Kok jadi cerita Abi? he he he... sesungguhnya bukan ingin bercerita tentang dia. Tapi karena tips yang nantinya kubagi berdasarkan pengalaman belajar bersamanya, mau tidak mau namanya tersebut.

Tips ini sederhana, mungkin ratusan ortu di luar sana sudah melakukannya. Buat yang belum... silahkan mencoba....

Ini dia langkahnya:

1. Buatlah 2 - 5 soal yang paling mudah. Jumlah yang banyak dan soal yang sulit akan mematikan minat anak-anak untuk mencobanya.
2. Mintalah anak-anak untuk menjawab soal itu sesuai kemampuannya. Setelah selesai, lihat berapa soal yang terjawab dan berapa yang tersisa.
3. Temani anak membuka lembaran buku untuk menemukan jawaban soal yang tak terjawab. Lakukan tahap ini untuk beberapa hari (lamanya sesuaikan dengan kemampuan anak).
4. Setelah anak-anak terbiasa, tambahkan jumlah soal, usahakan masih soal yang mudah.
5. Jika tahap ini terlewati dan anak-anak sudah terbiasa dengan pola ini, berikan soal yang lebih sulit.
6. Pada akhirnya kita bisa memberikan banyak soal latihan (tergantung umur dan kelas anak) yang merangkum seluruh isi bab untuk setiap pelajaran.
7. Periksalah soal ulangan harian, soal UTS bahkan soal ulangan semester yang diberikan sekolah untuk mengetahui tingkat kesulitan yang harus dihadapi anak-anak ketika berhadapan dengan ujian sekolah.
8. Berikan soal latihan yang sesuai dengan tingkat kesulitan itu.
9. Jika anda yakin anak anda mampu, buatlah soal yang bervariasi dari yang gampang hingga satu atau beberapa tingkat lebih sulit dari yang diberikan sekolah.
10. Berapapun soal yang mampu dikerjakan pada setiap tahapan belajar, pujilah anak atas hasilnya. Berikan ciuman dan pelukan sambil berterima kasih karena hari itu di mau belajar dengan hebat.


Nah, simple kan?

Dengan cara ini kita sekaligus dapat mengukur kemampuan anak. Jika dalam latihan di rumah, mereka mampu menjawab semua variasi soal, Insyah Allah ujian di sekolah akan mudah terlewati. Kalau hasil di rumah tidak terlalu menyenangkan, kita masih punya waktu untuk terus melatih anak.

Apapun hasilnya, dia anak kita. Allah selalu memberikan hal indah kepada kita. Dan anak kita... bukankah dia pemberian terindah dari Allah?

Saya ingin menyudahi catatan ini, tapi teringat sebuah penelitian yang mungkin berguna untuk dipikirkan.... (saya membacanya bertahun lalu dan lupa persis jurnal atau judul buku yang kubaca. Jika anda salah seorang penelitinya, mohon maafkan dan izinkan, mengutip hasil anda...)

Ini dia:
Sebuah tim ilmuwan meneliti untuk membuktikan bahwa setiap anak itu pandai. Mereka mendatangi sebuah sekolah yang dipilih secara acak. Di sekolah itu mereka memilih sebuah kelas yang juga dipilih secara acak.

Untuk beberapa waktu mereka melihat proses belajar di kelas itu. Setelah selesai mereka bertemu guru kelas dan memberikan beberapa nama anak dengan rekomendasi mereka anak cerdas.

Guru itu melihat daftar nama yang diberikan. Ia tahu beberapa nama anak yang disodorkan tidak dalam kategori cerdas. Kategori yang pas hanya biasa-baisa saja. Tapi karena yang merekomendasikan tim ilmuwan, guru itu 100 % percaya.

Proses belajar di hari-hari selanjutnya menjadi berbeda bagi anak-anak terpilih itu. Setiap guru yang mengajar di kelas itu, akan menyempatkan diri berdiri di belakang setiap anak dan mengawasi mereka belajar. Ketika ada yang salah dalam mengerjakan tugas di kelas, dengan cepat kesalahan itu terkoreksi.

Beberapa bulan kemudian tim peneliti kembali dan membandingkan kemampuan setiap anak sebelum dan setelah mereka dipilih sebagai “anak cerdas”. Hasilnya, kemampuan setiap anak meningkat dengan pesat.

Kepada guru-guru di sekolah itu, tim tersebut mengaku, mereka memilih anak secara acak tanpa tahu benar tingkat kecerdasan mereka. Guru di sekolah itu terkejut. Tapi tim peneliti itu berhasil membuktikan, setiap anak punya kesempatan untuk menjadi anak pandai. Tergantung berapa besar perhatian yang mereka dapatkan dalam proses belajar.

Sekarang anda percaya, anak yang Allah titipkan itu anak pandai? Jangan pernah ragu pada kebaikan hati Allah.

Yang perlu kita lakukan, hanya sedikit “memaksa” diri sendiri untuk memberikan lebih banyak waktu kepada mereka.

Buat teman-teman yang “keracunan” FB sepertiku... (he he he... ) kita tetap bisa on line sambil membuat 3 – 5 soal latihan untuk anak kita.

Selamat mencoba!
Dan ayo, kita buat semua anak Indonesia menjadi anak yang cerdas. Mau?


salam

tanralam