Namanya sesungguhnya Irfan, lengkapnya Irfan Hardiansyah Iskandar. Tapi seperti kebanyakan yang lain, nama itu kemudian akan segera meleset karena lidah Irfan kecil tak bisa menyebut namanya dengan benar. Lalu kita yang lebih besar latah mengikuti dia dalam menyebut dirinya, lalu menjelma Ippang.
Itu bertahun lalu. Tahun ini Ippang mulai menapaki kehidupannya sebagai lelaki yang menuju dewasa. Dari pengawasan penuh orang tua (ibu bapaknya, om dan juga tante-tantenya) ia melangkah menjauh ke kota baru tempat ia mulai menuntut ilmu pada sebuah perguruan tinggi.
Adikku yang pertama kuatir. Ia tak ingin ponakannya silau pada kehidupan baru yang mungkin penuh dengan "pameran" benda-benda mahal yang melekat pada diri kenalan atau teman-teman barunya. "Ah, dia mulai berbicara tentang Hp mahal dan mobil bermerek," kata adikku. "Ayo, berbicaralah padanya," desaknya. Mereka tengah berkumpul pada hari Idul Fitri kemarin, dan adikku lewat telepon menceritakan perubahan itu.
Ippang bukan seseorang yang gampang silau. Selama ini Hp baginya hanya alat untuk berkomunikasi. Ia tak protes hanya diberi Hp seharga ratusan ribu sementara dalam genggaman kakaknya ada Hp keluaran baru dari merek ternama (kesederhaan itu diam-diam kami kagumi dan syukuri pada diri Ippang). Hanya sebulan lebih ia meninggalkan rumah lalu pulang untuk merayakan Idul Fitri bersama. Tapi kenapa kini ia mulai berbicara tentang benda-benda dan bukan isi kepalanya seperti yang selama ini ia lakukan? Rasanya menjadi sangat pantas adikku mulai kuatir.
Ippang sayang.... ayo lihat dirimu. Tidakkah dulu kau melihat semua yang mulai kau kagumi sekarang hanya benda semata-mata? Sungguh di usiamu sekarang (semoga juga nanti), jangan silau pada semua itu. Tetaplah jadi Ippang yang mengagungkan isi kepalanya dan menjaga ketulusan hatinya.
Kuberi tahu sebuah argumen dari seorang teman. Katanya, kategorisasi seorang anak muda (usia sekolah/mahasiswa) yang bermobil pribadi sangat jelas. Pertama, ia memang sudah kaya dari sononya. Kedua, orang tuanya pedagang sukses. Ketiga, kalau tidak keduanya, sangat mungkin itu hasil korupsi. Nah?!
Kau Ippang sayangku, tidak berasal dari dua kategori awal. Jadi jangan menjebak papamu untuk masuk ke kategori ke-3.
Kuceritakan hal lain. Bertahun lalu ketika om Alam ditugasi meliput dunia pendidikan di Korea Selatan, om Alam memberikan oleh-oleh sebuah cerita tentang cara pandang masyarakat di negara industri itu. Mereka melihat segala produk termasuk elektronik benar-benar dari fungsi semata. "Hp mereka buluk, kebanyakan mulai terkelupas. Tapi mereka tak perduli. Fungsinyalah yang penting". Begitu om Alam berkisah.
Saat itu rasanya malu sekali karena mendapati sebuah Hp yang lumayan bagus tengah kugenggam. Korea Ippang sayang, sebuah negara industri dengan berbagai produk (sebut di antaranya Samsung, LG ) yang menyerbu kita.
Ayo, Ippang. Lihat perangai bangsa ini ( kau mulai dewasa, maka keluarlah dari dirimu dan mulailah lihat bangsa ini). Apapun produk yang dilempar ke pasar kita, serta merta kita dengan suka cita menyambutnya. HP, mobil dan semuanya... Kita tidak pernah sadar, negara industri itu dengan berbagai cara membuat bangsa dengan 200 juta lebih penduduknya ini membeli produk mereka. Lalu mengalirlah rupiah kita ke sana meninggalkan jejak ketertinggalan yang makin parah pada negeri ini. Miskin dan kalang-kabut mencari pinjaman luar negeri.
Jangan mau Ippang sayang "dijajah" dengan cara baru seperti itu. Banggalah pada dirimu, isi kepalamu dan kebeningan hatimu. Lalu mulailah "tulari" sekelilingmu dengan sikap enggan membeli sesuatu yang hanya membuat bangsa ini menjad i "mangsa" pasar bangsa lain.
Kembalilah melihat itu semua hanya benda. Seperti halnya pakaian yang akhirnya lusuh dan kita butuh yang lain untuk melindungi tubuh kita. Tapi isi kepalamu tak akan lusuh. Pada saatnya nanti dia akan bersinar. Tidak hanya untukmu tapi semoga juga untuk bangsa ini.
Jika segala benda yang melekat pada teman barumu seumpama lampu neon yang benderang dan menyilaukan mata, maka kamu cukup menjadi lilin. Sederhana dengan cahaya yang lebih bersahabat.
Puluhan neon di ruang yang sama, maka kita tidak lagi bisa membedakan asal cahayanya. Tapi sebuah lilin pada kebenderangan itu tetap saja ada dan terlihat, meski ia hanya menyala di pojok ruang.
Kami antarkan kau hari ini ke langkah berikutmu. Semoga kau menjadi lelaki yang bermartabat yang bangga pada diri sendiri, pada isi benakmu, pada bening hatimu, bukan pada assesori yang melekat di tubuhmu.
Kami semua sayang padamu.....
Buat dirimu kelak bangga pada keputusan dan langkah awal yang kau ambil hari ini...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar