Cerpen TanraLam
Pada setiap detak senja perempuan itu datang ke pantai ini menatap camar. Matanya mengabarkan rindu. Aku selalu ingin masuk ke dalam mata itu untuk tahu, apa yang membuatnya sarat rindu. Tapi perempuan itu tak mengenalku. Ia tak tahu, puluhan senja telah kulewati bersamanya. Memperhatikan matanya yang selalu beriak dalam banyak warna. Gemerlap lalu kelam yang tiba silih berganti seperti gulungan ombak.
Aku ingin ia tahu bahwa aku ada. Tetapi setiap kali langkahku terayun mendekatinya, setiap kali itu pula kutipu diriku dengan berbisik, ini bukan saat yang tepat. Tunggulah beberapa senja lagi. Aku memang pengecut. Tapi tak akan lagi kubiarkan senja di hari ini menghalangi langkahku.
Kutunggu hingga pengamen kecil dengan suara indah datang menghampiri perempuan itu. Aku tahu anak itu akan menyanyikan lagu yang sama seperti pada puluhan senja yang lewat..
“Apakah kau menantikan seseorang?” Aku menyapanya ketika senyum pengamen kecil itu merekah saat menerima usapan lembut di kepalanya. Upah untuk suara merdunya.
Perempuan itu mendongak terkejut. Ia menatapku tajam. Sinar di matanya membuatku merasa begitu bodoh memperkenalkan diri dengan cara yang tidak lazim. Ah, seharusnya kusebutkan namaku.
“Saya Kemal. Tahukah kau, puluhan senja telah kulewati bersamamu?”
Sudah tentu dia tak tertarik. Benar-benar cara berkenalan yang bodoh. Aku yakin ia bahkan tidak mendengarkan kata-kataku. Aku melihatnya kembali membelai kepala pengamen kecil itu. Bibirnya mengukir senyum tulus ketika berkata terima kasih. Bocah itu mengangguk riang lalu pergi.
Aku masih berbicara dan berharap ia tertarik dan menjawabku. Senja berubah malam ketika aku sadar, aku hanya berbicara kepada angin yang bertiup tajam. Perempuan itu membisu. Lewat sedikit cahaya yang terpantul dari gerobak penjual pisang epek yang mangkal tak jauh dari kami, kulihat matanya. Mata itu tak ada di pantai ini. Mengembara entah ke dunia mana.
Dua puluh senja berikutnya baru aku tahu. Namanya Sinagu.
“Mengapa kau begitu ingin tahu?” Ia menyalak ketika dengan halus kudesak untuk mengatakan siapa namanya. Ia bahkan tak memberiku kesempatan memujinya dengan berkata bahwa namanya indah. Ia menyebutnya dengan begitu terpaksa. Seolah ingin berkata. Nah, sekarang kamu tahu, maka diamlah! Bagaimanapun, senja itu akhirnya memberiku sepotong nama.
Lima puluh senja. Aku mendapatkan senyumnya. Samar.
Senja yang ke tujuh puluh dua ketika ia bertanya, “Apa yang ingin kamu ketahui?”
Aku baru saja duduk di sampingnya dan terpesona mendapatkan pertanyaan itu. Ini pertama kali ia memulai percakapan dengan pertanyaan yang tak tahu harus kujawab apa. Apa yang ingin aku ketahui? Setelah begitu banyak senja kulewati bersamanya, aku tak lagi tahu apa yang ingin kuketahui tentang dia.
Ketika pertama kali melihatnya, aku tertarik pada kelam matanya yang menatap senja direngkuh malam. Gerak halus tubuhnya seolah berkata, sehari lewat lagi, apakah engkau besok tiba? Senja setelah itu sambil memperhatikan matanya yang menatap lekat ke arah sebuah perahu yang berlayar pulang, aku mulai bertanya-tanya, siapa yang sedang ia nanti?
“Aku menunggu kekasih.” Senja ke tujuh puluh sembilan. Aku tak bertanya. Ia berkata begitu saja.
“Ia berjanji akan pulang dengan sebuah perahu yang berisi cinta untukku.” Tawaku nyaris pecah. Mengapa ia begitu lugu. Siapa lelaki yang begitu tega memberinya janji yang serupa mimpi?
“Jangan tertawa,” suaranya menyentak. Aku tergagap. Rupanya dia tahu aku ingin tertawa. Ketika ia menoleh dan menatapku, aku menggeleng cepat. Kubiarkan dia menguliti kejujuranku.
“Kamu memang tertawa,” katanya muram. Aku gelagapan. Ingin kukatakan sesuatu, tapi tatapannya menghancurkan semua kata yang terserak di ujung lidahku.
“Mestinya tanah ini memberikan kehidupan kepadanya sehingga ia tak perlu mencarinya hingga ke daratan lain yang bukan miliknya.” Senja ke delapan puluh. Ia berkata begitu ketika dengan berani kutanyakan kenapa kekasihnya pergi.
“Kita mengeluhkan semua hal yang ada di negeri ini. Tak ada pekerjaan. Pemimpin yang bukan negarawan dan asyik menghibur diri sendiri. Politisi-politisi yang mencoba terlihat pintar lalu mengumbar ribuan janji karena tidak pandai bekerja. Pada akhirnya semua itu menjadi bagitu membosankan hingga kita tidak lagi perduli. Dia memutuskan pergi.”
“Dan kamu menunggunya?”
Sinagu mengangguk. “Aku berjanji untuk menunggunya.” Suaranya menembus langit.
“Begitu berartikah dia?”
Astaga, seharusnya aku menghiburnya. Pertanyaan bodoh! Tentu saja lelaki itu sangat berarti untuknya. Kalau tidak, untuk apa ia menunggu?
“Dia membawa hatiku,” ia menjawab. Suaranya mengalun rindu.
Nah, apa yang harus kukatakan. Jawaban itu membuatku perih. Sinagu tak tahu, pada setiap senja yang kulewati bersamanya, sekerat demi sekerat hatiku ikut bersama langkahnya menuju pulang.
“Jangan cengeng!” Aku mencoba tidak memikirkan suranya yang merindu. Tetapi aku memang bodoh. Mengapa kukatakan itu karena yang kudapatkan darinya adalah jawaban yang menikam tajam.
“Kenapa kejujuran berarti cengeng?” Suranya bagai awan kelam yang menjanjikan badai.
Beberapa senja setelah itu ia menghilang. Sekali lagi aku mengutuki kebodohanku. Kenapa begitu puas hanya dengan tahu sepotong namanya. Setidaknya tanyakanlah tempat tinggalnya.
Tiga senja setelah ia menghilang, aku sadar aku merasa kehilangan. Aku merindukan kelam matanya saat menatap camar. Rindu pada keterusterangannya yang tak terduga. Rindu pada siluet tubuhnya dalam remang senja. Tanpa dia, senja di Pantai Losari ini menjadi berbeda.
Aku getir karena sadar, kini akulah lelaki yang merindu.
Seminggu kemudian Sinagu kembali. Dari jauh aku melihatnya menatap camar. Perasaan bahagia membuat hatiku hangat. Langkahku seperti berkejaran mendekatinya.
“Hai....,” suaraku pelan menyapa. Dia menoleh. Tanpa canggung ia menatap tepat di manik mataku, menyusuri tiap inci wajahku. Lama. Lalu bibirnya mengukir senyum.
“Merindukanku?”
Nah, kan. Coba dengar dia sama sekali tak punya basa-basi. Tentu saja aku merindukannya. Hanya saja aku tak ingin dia mendapatkan pengakuan itu.
“Tidak.” Aku berdusta. “Tak mau aku merindukan perempuan sepertimu.”
Dia tertawa. Aku senang mendengar tawanya. Rasanya seperti sedang melahap kerupuk kentang yang garing renyah gurih.
“Aku baru tahu, lelaki juga bisa malu mengakui perasaannya.” Matanya bersinar jenaka ketika menambahkan, “Matamu mengatakan semuanya.”
Aku bisa apa, ia tahu aku bohong. Aku hanya ingin mengelak sebisa mungkin.
“Tak ada alasan untuk merindukanmu. Aku bahkan cuma tahu namamu. Selebihnya kamu hanyalah makhluk asing yang muncul dari kedalaman laut. Sesuatu yang asing, tak bisa menumbuhkan rasa rindu,” sangkalku.
Sinagu diam. Kejenakaan yang sesaat tadi tergambar di matanya menghilang. Aku menyesal membuatnya murung. Akan kuralat ucapanku.
“Aku memang merindukanmu.”
Kukira aku mengatakannya dengan suara pelan. Tapi kenapa ia tampak begitu terkejut?
“Aku merindukan kelam matamu. Rindu pada diammu. Aku bahkan merindukan apapun yang ada pada dirimu.” Begitu melegakan mengatakan semuanya. Sinagu tak berkata apa-apa. Senja itu kami lewati dalam bisu.
Besoknya Sinagu berkata, jangan merindukanku. Aku tak bisa membagi hatiku kepada dua lelaki. Aku ingin mendebatnya. Tapi Sinagu hanya datang untuk mengatakan hal itu. Selepas berucap ia berbalik pergi. Aku mengikutinya, meraih dan menggenggam erat tangannya.
“Jangan pergi. Senja belum usai.”
Sinagu menggeleng, dengan halus ia membebaskan tangannya. Aku merasa aneh karena tiba-tiba menjadi panik. Apakah ia akan datang besok?
“Tinggallah, jangan pergi.” Aku membujuk lagi. Ia menggeleng.
“Katakan di mana aku bisa menemuimu?” Kucoba cara lain. Sinagu memberiku seulas senyum ketika menjawab.
“Kamu sudah mengatakannya. Di kedalaman laut!” Ia pergi begitu saja.
Tapi senja berikutnya Sinagu datang lagi. Aku hampir bersorak ketika melihatnya duduk mencakung di tanggul pantai dengan mata yang menembus langit.
“Aku hanya ingin mencintai Baso.” Aku baru saja duduk di sampingnya ketika ia berkata itu.
“Aku tahu lelaki suka yang misterius. Itu menantang rasa ingin tahu. Ketika kemisteriusan tak terkuak, ia merasa diremehkan. Ketika tanyanya memperoleh jawab, harga dirinya pulih. Itu alasan yang bagus untuk mendapatkan apa saja.”
Aku terperangah. Seperti itukah aku di matanya. Aku tidak begitu, kudebat dia. Sinagu tak perduli.
“Aku tidak ingin terlihat misterius dan menggelitik tanyamu. Aku datang ke pantai ini karena di sinilah aku melepas Baso pergi.” Aku mencemburui nama itu.
“Aku hanya punya satu hati, dia membawanya.” Sinagu menjawab kecemburuanku dengan penjelasan yang memerihkan otak. Aku tak siap, sebentar lagi dadaku meledak.
“Kapan ia kembali?” Aku malu setelah menanyakannya.
“Tak tahu.” Kulihat sendu di getar bibirnya
Senja itu adalah senja terakhirku berbincang dengannya. Sinagu memintaku tak lagi menjadi bagian dari senja penantiannya. Tentu saja aku tak mau. Tidak bisa! Mana mungkin? Keterlaluan! Permintaan yang tidak masuk akal! Kumuntahkan semua keberatanku.
“Kau akan terluka,” katanya membujuk. “Aku tahu pedihnya merindu.”
***
Mengapa hati bisa sangat senyap padahal senja di Pantai Losari begitu bingar? Dengarlah musik yang riuh bersahutan dari gerobak-gerobak penjajah makanan yang berjejer panjang. Atau lihatlah wajah-wajah cerah berpasang kekasih yang duduk merajut cinta di tanggulnya yang panjang. Dan mengapa aku selalu iri kepada laut yang memerah bahagia merengkuh matahari yang berubah senja? Dan mengapa rindu bisa begitu perih?
Aku Sinagu. Perempuan yang mendatangi senja menanti janji. Tapi Detak waktu yang iri tidak berpihak kepadaku.. Ia merampas Baso lewat reruntuhan bangunan yang melumatkan tubuhnya. Kabar itu juga melumatkan impian masa depanku. Janji Baso tak akan tiba. Tapi tak apa, aku tetap rindu kepadanya.
Kudekap tubuhku menghalau angin yang bertiup dingin memerihkan kulit. Di kemerahan senja seekor camar terbang menukik. Mendekat, terbang berputar lalu melayang pergi. Di kejauhan ada perahu yang berlayar pulang. Mungkin untuk menemukan cinta, barangkali untuk menuntaskan rindu.
Pengamen kecil bertopi lusuh sahabat kecilku mendekat. Dalam pelukan tangannya yang kurus, ada gitar tua yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Dia membujukku untuk mendengarkan lagu cinta. Aku tersenyum dan menggeleng. Tahukah kau lagu tentang rindu? Aku bertanya.
Anak kecil tersenyum lalu berdendang:
Pada setiap detak senja perempuan itu datang ke pantai ini menatap camar. Matanya mengabarkan rindu. Aku selalu ingin masuk ke dalam mata itu untuk tahu, apa yang membuatnya sarat rindu. Tapi perempuan itu tak mengenalku. Ia tak tahu, puluhan senja telah kulewati bersamanya. Memperhatikan matanya yang selalu beriak dalam banyak warna. Gemerlap lalu kelam yang tiba silih berganti seperti gulungan ombak.
Aku ingin ia tahu bahwa aku ada. Tetapi setiap kali langkahku terayun mendekatinya, setiap kali itu pula kutipu diriku dengan berbisik, ini bukan saat yang tepat. Tunggulah beberapa senja lagi. Aku memang pengecut. Tapi tak akan lagi kubiarkan senja di hari ini menghalangi langkahku.
Kutunggu hingga pengamen kecil dengan suara indah datang menghampiri perempuan itu. Aku tahu anak itu akan menyanyikan lagu yang sama seperti pada puluhan senja yang lewat..
“Apakah kau menantikan seseorang?” Aku menyapanya ketika senyum pengamen kecil itu merekah saat menerima usapan lembut di kepalanya. Upah untuk suara merdunya.
Perempuan itu mendongak terkejut. Ia menatapku tajam. Sinar di matanya membuatku merasa begitu bodoh memperkenalkan diri dengan cara yang tidak lazim. Ah, seharusnya kusebutkan namaku.
“Saya Kemal. Tahukah kau, puluhan senja telah kulewati bersamamu?”
Sudah tentu dia tak tertarik. Benar-benar cara berkenalan yang bodoh. Aku yakin ia bahkan tidak mendengarkan kata-kataku. Aku melihatnya kembali membelai kepala pengamen kecil itu. Bibirnya mengukir senyum tulus ketika berkata terima kasih. Bocah itu mengangguk riang lalu pergi.
Aku masih berbicara dan berharap ia tertarik dan menjawabku. Senja berubah malam ketika aku sadar, aku hanya berbicara kepada angin yang bertiup tajam. Perempuan itu membisu. Lewat sedikit cahaya yang terpantul dari gerobak penjual pisang epek yang mangkal tak jauh dari kami, kulihat matanya. Mata itu tak ada di pantai ini. Mengembara entah ke dunia mana.
Dua puluh senja berikutnya baru aku tahu. Namanya Sinagu.
“Mengapa kau begitu ingin tahu?” Ia menyalak ketika dengan halus kudesak untuk mengatakan siapa namanya. Ia bahkan tak memberiku kesempatan memujinya dengan berkata bahwa namanya indah. Ia menyebutnya dengan begitu terpaksa. Seolah ingin berkata. Nah, sekarang kamu tahu, maka diamlah! Bagaimanapun, senja itu akhirnya memberiku sepotong nama.
Lima puluh senja. Aku mendapatkan senyumnya. Samar.
Senja yang ke tujuh puluh dua ketika ia bertanya, “Apa yang ingin kamu ketahui?”
Aku baru saja duduk di sampingnya dan terpesona mendapatkan pertanyaan itu. Ini pertama kali ia memulai percakapan dengan pertanyaan yang tak tahu harus kujawab apa. Apa yang ingin aku ketahui? Setelah begitu banyak senja kulewati bersamanya, aku tak lagi tahu apa yang ingin kuketahui tentang dia.
Ketika pertama kali melihatnya, aku tertarik pada kelam matanya yang menatap senja direngkuh malam. Gerak halus tubuhnya seolah berkata, sehari lewat lagi, apakah engkau besok tiba? Senja setelah itu sambil memperhatikan matanya yang menatap lekat ke arah sebuah perahu yang berlayar pulang, aku mulai bertanya-tanya, siapa yang sedang ia nanti?
“Aku menunggu kekasih.” Senja ke tujuh puluh sembilan. Aku tak bertanya. Ia berkata begitu saja.
“Ia berjanji akan pulang dengan sebuah perahu yang berisi cinta untukku.” Tawaku nyaris pecah. Mengapa ia begitu lugu. Siapa lelaki yang begitu tega memberinya janji yang serupa mimpi?
“Jangan tertawa,” suaranya menyentak. Aku tergagap. Rupanya dia tahu aku ingin tertawa. Ketika ia menoleh dan menatapku, aku menggeleng cepat. Kubiarkan dia menguliti kejujuranku.
“Kamu memang tertawa,” katanya muram. Aku gelagapan. Ingin kukatakan sesuatu, tapi tatapannya menghancurkan semua kata yang terserak di ujung lidahku.
“Mestinya tanah ini memberikan kehidupan kepadanya sehingga ia tak perlu mencarinya hingga ke daratan lain yang bukan miliknya.” Senja ke delapan puluh. Ia berkata begitu ketika dengan berani kutanyakan kenapa kekasihnya pergi.
“Kita mengeluhkan semua hal yang ada di negeri ini. Tak ada pekerjaan. Pemimpin yang bukan negarawan dan asyik menghibur diri sendiri. Politisi-politisi yang mencoba terlihat pintar lalu mengumbar ribuan janji karena tidak pandai bekerja. Pada akhirnya semua itu menjadi bagitu membosankan hingga kita tidak lagi perduli. Dia memutuskan pergi.”
“Dan kamu menunggunya?”
Sinagu mengangguk. “Aku berjanji untuk menunggunya.” Suaranya menembus langit.
“Begitu berartikah dia?”
Astaga, seharusnya aku menghiburnya. Pertanyaan bodoh! Tentu saja lelaki itu sangat berarti untuknya. Kalau tidak, untuk apa ia menunggu?
“Dia membawa hatiku,” ia menjawab. Suaranya mengalun rindu.
Nah, apa yang harus kukatakan. Jawaban itu membuatku perih. Sinagu tak tahu, pada setiap senja yang kulewati bersamanya, sekerat demi sekerat hatiku ikut bersama langkahnya menuju pulang.
“Jangan cengeng!” Aku mencoba tidak memikirkan suranya yang merindu. Tetapi aku memang bodoh. Mengapa kukatakan itu karena yang kudapatkan darinya adalah jawaban yang menikam tajam.
“Kenapa kejujuran berarti cengeng?” Suranya bagai awan kelam yang menjanjikan badai.
Beberapa senja setelah itu ia menghilang. Sekali lagi aku mengutuki kebodohanku. Kenapa begitu puas hanya dengan tahu sepotong namanya. Setidaknya tanyakanlah tempat tinggalnya.
Tiga senja setelah ia menghilang, aku sadar aku merasa kehilangan. Aku merindukan kelam matanya saat menatap camar. Rindu pada keterusterangannya yang tak terduga. Rindu pada siluet tubuhnya dalam remang senja. Tanpa dia, senja di Pantai Losari ini menjadi berbeda.
Aku getir karena sadar, kini akulah lelaki yang merindu.
Seminggu kemudian Sinagu kembali. Dari jauh aku melihatnya menatap camar. Perasaan bahagia membuat hatiku hangat. Langkahku seperti berkejaran mendekatinya.
“Hai....,” suaraku pelan menyapa. Dia menoleh. Tanpa canggung ia menatap tepat di manik mataku, menyusuri tiap inci wajahku. Lama. Lalu bibirnya mengukir senyum.
“Merindukanku?”
Nah, kan. Coba dengar dia sama sekali tak punya basa-basi. Tentu saja aku merindukannya. Hanya saja aku tak ingin dia mendapatkan pengakuan itu.
“Tidak.” Aku berdusta. “Tak mau aku merindukan perempuan sepertimu.”
Dia tertawa. Aku senang mendengar tawanya. Rasanya seperti sedang melahap kerupuk kentang yang garing renyah gurih.
“Aku baru tahu, lelaki juga bisa malu mengakui perasaannya.” Matanya bersinar jenaka ketika menambahkan, “Matamu mengatakan semuanya.”
Aku bisa apa, ia tahu aku bohong. Aku hanya ingin mengelak sebisa mungkin.
“Tak ada alasan untuk merindukanmu. Aku bahkan cuma tahu namamu. Selebihnya kamu hanyalah makhluk asing yang muncul dari kedalaman laut. Sesuatu yang asing, tak bisa menumbuhkan rasa rindu,” sangkalku.
Sinagu diam. Kejenakaan yang sesaat tadi tergambar di matanya menghilang. Aku menyesal membuatnya murung. Akan kuralat ucapanku.
“Aku memang merindukanmu.”
Kukira aku mengatakannya dengan suara pelan. Tapi kenapa ia tampak begitu terkejut?
“Aku merindukan kelam matamu. Rindu pada diammu. Aku bahkan merindukan apapun yang ada pada dirimu.” Begitu melegakan mengatakan semuanya. Sinagu tak berkata apa-apa. Senja itu kami lewati dalam bisu.
Besoknya Sinagu berkata, jangan merindukanku. Aku tak bisa membagi hatiku kepada dua lelaki. Aku ingin mendebatnya. Tapi Sinagu hanya datang untuk mengatakan hal itu. Selepas berucap ia berbalik pergi. Aku mengikutinya, meraih dan menggenggam erat tangannya.
“Jangan pergi. Senja belum usai.”
Sinagu menggeleng, dengan halus ia membebaskan tangannya. Aku merasa aneh karena tiba-tiba menjadi panik. Apakah ia akan datang besok?
“Tinggallah, jangan pergi.” Aku membujuk lagi. Ia menggeleng.
“Katakan di mana aku bisa menemuimu?” Kucoba cara lain. Sinagu memberiku seulas senyum ketika menjawab.
“Kamu sudah mengatakannya. Di kedalaman laut!” Ia pergi begitu saja.
Tapi senja berikutnya Sinagu datang lagi. Aku hampir bersorak ketika melihatnya duduk mencakung di tanggul pantai dengan mata yang menembus langit.
“Aku hanya ingin mencintai Baso.” Aku baru saja duduk di sampingnya ketika ia berkata itu.
“Aku tahu lelaki suka yang misterius. Itu menantang rasa ingin tahu. Ketika kemisteriusan tak terkuak, ia merasa diremehkan. Ketika tanyanya memperoleh jawab, harga dirinya pulih. Itu alasan yang bagus untuk mendapatkan apa saja.”
Aku terperangah. Seperti itukah aku di matanya. Aku tidak begitu, kudebat dia. Sinagu tak perduli.
“Aku tidak ingin terlihat misterius dan menggelitik tanyamu. Aku datang ke pantai ini karena di sinilah aku melepas Baso pergi.” Aku mencemburui nama itu.
“Aku hanya punya satu hati, dia membawanya.” Sinagu menjawab kecemburuanku dengan penjelasan yang memerihkan otak. Aku tak siap, sebentar lagi dadaku meledak.
“Kapan ia kembali?” Aku malu setelah menanyakannya.
“Tak tahu.” Kulihat sendu di getar bibirnya
Senja itu adalah senja terakhirku berbincang dengannya. Sinagu memintaku tak lagi menjadi bagian dari senja penantiannya. Tentu saja aku tak mau. Tidak bisa! Mana mungkin? Keterlaluan! Permintaan yang tidak masuk akal! Kumuntahkan semua keberatanku.
“Kau akan terluka,” katanya membujuk. “Aku tahu pedihnya merindu.”
***
Mengapa hati bisa sangat senyap padahal senja di Pantai Losari begitu bingar? Dengarlah musik yang riuh bersahutan dari gerobak-gerobak penjajah makanan yang berjejer panjang. Atau lihatlah wajah-wajah cerah berpasang kekasih yang duduk merajut cinta di tanggulnya yang panjang. Dan mengapa aku selalu iri kepada laut yang memerah bahagia merengkuh matahari yang berubah senja? Dan mengapa rindu bisa begitu perih?
Aku Sinagu. Perempuan yang mendatangi senja menanti janji. Tapi Detak waktu yang iri tidak berpihak kepadaku.. Ia merampas Baso lewat reruntuhan bangunan yang melumatkan tubuhnya. Kabar itu juga melumatkan impian masa depanku. Janji Baso tak akan tiba. Tapi tak apa, aku tetap rindu kepadanya.
Kudekap tubuhku menghalau angin yang bertiup dingin memerihkan kulit. Di kemerahan senja seekor camar terbang menukik. Mendekat, terbang berputar lalu melayang pergi. Di kejauhan ada perahu yang berlayar pulang. Mungkin untuk menemukan cinta, barangkali untuk menuntaskan rindu.
Pengamen kecil bertopi lusuh sahabat kecilku mendekat. Dalam pelukan tangannya yang kurus, ada gitar tua yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Dia membujukku untuk mendengarkan lagu cinta. Aku tersenyum dan menggeleng. Tahukah kau lagu tentang rindu? Aku bertanya.
Anak kecil tersenyum lalu berdendang:
Labuni essoE
Turunni uddaniE
Wettunnani massenge ritau mabelaE
Mabelani laona
Tengnginanna takdewe’
Tekkarebanna pole
Teppasenna pole........*)
Turunni uddaniE
Wettunnani massenge ritau mabelaE
Mabelani laona
Tengnginanna takdewe’
Tekkarebanna pole
Teppasenna pole........*)
Anak kecil itu terus bernyanyi. Aku menegakkan wajah. Membetulkan letak rambut yang tersibak angin. Di langit seekor camar kembali mendekat. Mungkin camar yang tadi. Mungkin camar yang berbeda. Tak ada yang benar-benar tahu.
Kepada camar itu aku berbisik, aku datang ke pantai ini untuk mengabarkan rindu. Dapatkah kau membawa pergi hingga ke ujung langit dan menyampaikan rindu yang dititipkan dalam kepak sayapmu?
(dan tolong jangan katakan kepada Kemal, Baso tak akan pernah kembali. Aku tahu dia masih suka memandangiku dari jauh).
Camar itu melayang pergi.
Kepada camar itu aku berbisik, aku datang ke pantai ini untuk mengabarkan rindu. Dapatkah kau membawa pergi hingga ke ujung langit dan menyampaikan rindu yang dititipkan dalam kepak sayapmu?
(dan tolong jangan katakan kepada Kemal, Baso tak akan pernah kembali. Aku tahu dia masih suka memandangiku dari jauh).
Camar itu melayang pergi.
Tak kembali lagi.
***
***
*) Saat mentari kembali ke paraduan
Rindu pun datang menyergap
Teringatlah kepada
mereka yang jauh di rantau
Jauh nian dalam perjalanan
Tanpa niatan untuk kembali
Tak ada kabar beritanya
Tak ada pesan yang datang
(lagu rakyat Bugis)
Rindu pun datang menyergap
Teringatlah kepada
mereka yang jauh di rantau
Jauh nian dalam perjalanan
Tanpa niatan untuk kembali
Tak ada kabar beritanya
Tak ada pesan yang datang
(lagu rakyat Bugis)
