Senin, 12 Oktober 2009

Anak Siap Ujian ??? [semoga] Ini caranya....

Kok judulnya serius banget ya? Abaikan judulnya.... (karena saya tak pandai memberi judul... he he he).

Awalnya kebiasaan Abi, anak saya ketika duduk di kelas I SD (sekarang kelas V). Waktu itu dia keranjingan mengerjakan semua soal di halaman buku matematikanya. Ketika habis dia minta dibuatkan beberapa soal lagi. Dari matematika, pindah ke pelajaran lain.

Karena keseringan dan pelajaran di buku paket hanya dari itu ke itu juga... akhirnya soal-soal itu saya ketik dalam format soal ujian. Isian dan multiplechoice... (biar nantinya bisa diulang tanpa harus ditulis ulang... kan pegal?)

Tanpa saya sangka cara ini ternyata menguntungkan. Saya tidak perlu susah payah meminta Abi untuk membuka halaman bukunya, karena dengan sendirinya dia akan membuka buku untuk menemukan jawaban yang belum terjawab.

Kok jadi cerita Abi? he he he... sesungguhnya bukan ingin bercerita tentang dia. Tapi karena tips yang nantinya kubagi berdasarkan pengalaman belajar bersamanya, mau tidak mau namanya tersebut.

Tips ini sederhana, mungkin ratusan ortu di luar sana sudah melakukannya. Buat yang belum... silahkan mencoba....

Ini dia langkahnya:

1. Buatlah 2 - 5 soal yang paling mudah. Jumlah yang banyak dan soal yang sulit akan mematikan minat anak-anak untuk mencobanya.
2. Mintalah anak-anak untuk menjawab soal itu sesuai kemampuannya. Setelah selesai, lihat berapa soal yang terjawab dan berapa yang tersisa.
3. Temani anak membuka lembaran buku untuk menemukan jawaban soal yang tak terjawab. Lakukan tahap ini untuk beberapa hari (lamanya sesuaikan dengan kemampuan anak).
4. Setelah anak-anak terbiasa, tambahkan jumlah soal, usahakan masih soal yang mudah.
5. Jika tahap ini terlewati dan anak-anak sudah terbiasa dengan pola ini, berikan soal yang lebih sulit.
6. Pada akhirnya kita bisa memberikan banyak soal latihan (tergantung umur dan kelas anak) yang merangkum seluruh isi bab untuk setiap pelajaran.
7. Periksalah soal ulangan harian, soal UTS bahkan soal ulangan semester yang diberikan sekolah untuk mengetahui tingkat kesulitan yang harus dihadapi anak-anak ketika berhadapan dengan ujian sekolah.
8. Berikan soal latihan yang sesuai dengan tingkat kesulitan itu.
9. Jika anda yakin anak anda mampu, buatlah soal yang bervariasi dari yang gampang hingga satu atau beberapa tingkat lebih sulit dari yang diberikan sekolah.
10. Berapapun soal yang mampu dikerjakan pada setiap tahapan belajar, pujilah anak atas hasilnya. Berikan ciuman dan pelukan sambil berterima kasih karena hari itu di mau belajar dengan hebat.


Nah, simple kan?

Dengan cara ini kita sekaligus dapat mengukur kemampuan anak. Jika dalam latihan di rumah, mereka mampu menjawab semua variasi soal, Insyah Allah ujian di sekolah akan mudah terlewati. Kalau hasil di rumah tidak terlalu menyenangkan, kita masih punya waktu untuk terus melatih anak.

Apapun hasilnya, dia anak kita. Allah selalu memberikan hal indah kepada kita. Dan anak kita... bukankah dia pemberian terindah dari Allah?

Saya ingin menyudahi catatan ini, tapi teringat sebuah penelitian yang mungkin berguna untuk dipikirkan.... (saya membacanya bertahun lalu dan lupa persis jurnal atau judul buku yang kubaca. Jika anda salah seorang penelitinya, mohon maafkan dan izinkan, mengutip hasil anda...)

Ini dia:
Sebuah tim ilmuwan meneliti untuk membuktikan bahwa setiap anak itu pandai. Mereka mendatangi sebuah sekolah yang dipilih secara acak. Di sekolah itu mereka memilih sebuah kelas yang juga dipilih secara acak.

Untuk beberapa waktu mereka melihat proses belajar di kelas itu. Setelah selesai mereka bertemu guru kelas dan memberikan beberapa nama anak dengan rekomendasi mereka anak cerdas.

Guru itu melihat daftar nama yang diberikan. Ia tahu beberapa nama anak yang disodorkan tidak dalam kategori cerdas. Kategori yang pas hanya biasa-baisa saja. Tapi karena yang merekomendasikan tim ilmuwan, guru itu 100 % percaya.

Proses belajar di hari-hari selanjutnya menjadi berbeda bagi anak-anak terpilih itu. Setiap guru yang mengajar di kelas itu, akan menyempatkan diri berdiri di belakang setiap anak dan mengawasi mereka belajar. Ketika ada yang salah dalam mengerjakan tugas di kelas, dengan cepat kesalahan itu terkoreksi.

Beberapa bulan kemudian tim peneliti kembali dan membandingkan kemampuan setiap anak sebelum dan setelah mereka dipilih sebagai “anak cerdas”. Hasilnya, kemampuan setiap anak meningkat dengan pesat.

Kepada guru-guru di sekolah itu, tim tersebut mengaku, mereka memilih anak secara acak tanpa tahu benar tingkat kecerdasan mereka. Guru di sekolah itu terkejut. Tapi tim peneliti itu berhasil membuktikan, setiap anak punya kesempatan untuk menjadi anak pandai. Tergantung berapa besar perhatian yang mereka dapatkan dalam proses belajar.

Sekarang anda percaya, anak yang Allah titipkan itu anak pandai? Jangan pernah ragu pada kebaikan hati Allah.

Yang perlu kita lakukan, hanya sedikit “memaksa” diri sendiri untuk memberikan lebih banyak waktu kepada mereka.

Buat teman-teman yang “keracunan” FB sepertiku... (he he he... ) kita tetap bisa on line sambil membuat 3 – 5 soal latihan untuk anak kita.

Selamat mencoba!
Dan ayo, kita buat semua anak Indonesia menjadi anak yang cerdas. Mau?


salam

tanralam

Tidak ada komentar: