Saat belajar di bangku sekolah dasar, rasanya bangga menjadi anak Indonesia. Di buku-buku tertulis, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Negara yang kaya. Bangsa Bahari dengan kepiawaian menghadapi laut yang sulit mendapat tandingan. Bangsa dengan beragam budaya, bahasa, juga musik yang kaya. Ramah, berjiwa besar dan berhati mulia. Betapa megah Indonesia.
Lalu sekolah berlanjut dan buku pelajaran bertambah. Lho, negara besar ternyata bukan Indonesia. Kalau Indonesia negeri bahari, mengapa Angkatan Laut Inggris yang terbesar? Dan Amerika, mengapa bisa begitu pongah mengklaim diri sebagai polisi dunia? Dan jika Indonesia kaya dengan beragam budaya dan bahasa, mengapa Perancis lebih meriah dan bangga dengan bunyi sengau pada bahasa ibunya? Jika kaya, mengapa rakyat banyak yang melarat? Dan mengapa tak ada pemimpinnya yang mewarisi jiwa besar pahlawan bangsa ini? Buku-buku itu, tega benar menipuku.
Keterkejutan dan berbagai pertanyaan itu nyaris membuatku kecewa menjadi anak Indonesia. Lalu kulupakan semua puja-puji di buku itu dan mencoba melihat Indonesia dengan cara berbeda. Akhirnya kusadari, buku-buku itu tidak membangun kejujuran. Sejak kecil anak-anak negeri ini diberi mimpi tentang bangsa besar yang nyatanya tak benar.
Kesadaran atas tipisnya kejujuran di negeri ini akhirnya mengantar untuk maklum atas berbagai kecurangan yang terjadi. Kasus KPK yang merupakan puncak gunung es atas berbagai kasus korupsi dan ketidakadilan di negeri ini lalu terlihat wajar. Wajar, karena hampir semua kita dibesarkan dengan ketidakjujuran berbangsa.
Jepang, setelah dilululantakkan bom atom, dengan jujur mengakui negara mereka hancur lalu mencoba bangkit. Hasilnya sungguh menakjubkan. Kita lebih suka menganggap diri besar lalu terlena. Kita biarkan banyak perempuan muda, ibu dari dua tiga anak, istri yang tercinta, pulang dengan tubuh lumat dihajar majikan. Tanyakanlah pada anak SD sekarang, apa mereka tahu banyak perempuan di negerinya yang kaya ini menjadi tenaga kerja di luar negeri?
Kebanyakan mereka akan terperangah. Mungkin akan meneteskan air mata ketika tahu jumlah yang pulang tanpa nyawa. Kematian yang tak bisa dianugerahi gelar pahlawan meski menyumbang dana besar untuk negeri ini. Dan petinggi di negeri, sungguh, mereka tidak akan sibuk dengan urusan remeh perempuan yang mati. Mereka lebih suka menghitung rupiah untuk diri dan keluarga. Karena mereka bagian dari bangsa besar yang tak boleh terlihat melarat.
Saya membayangkan, andai buku-buku sejarah dan berbangsa kita dengan jujur mengingatkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang baru merintis kemerdekaan sekaligus memperlihatkan ketertinggalan kita atas banyak bangsa besar yang ratusan tahun lebih dahulu merdeka, rasanya hasilnya akan berbeda.
Tapi buku sejarah dan berbangsa telah tertulis, dan setiap kita sudah pernah melahapnya habis. Menyisakan ingatan indah tentang bangsa besar dan kaya. Kita enggan mengakui bahwa bangsa besar itu mungkin memang pernah dimiliki oleh sebagian kerajaan yang pernah ada di negeri ini. Kebesaran yang dengan sendirinya menguap ketika negeri ini 350 tahun lebih terjajah. Yang tersisa setelahnya adalah ketertinggalan, kemelaratan, dan kebodohan yang hampir menyentuh semua orang di negeri ini.
Setelah 64 tahun merdeka, kita masih tetap saja jadi bangsa yang bodoh. Apa pula sebutan yang lebih bagus bagi keserakahan yang tidak berujung yang terjadi pada beberapa petinggi di negeri ini? Tak ada orang pandai yang menepikan kalkulasi, bahwa dengan segudang uang yang ia timbun hanya akan mencerdaskan satu dua anak dan membiarkan jutaan yang lain tak bisa sekolah.
Jika pandai, kita tidak akan membiarkan diri dibodohi habis oleh skenario yang disusun sendiri dengan beberapa pandir lain agar bisa semakin kaya dan menghancurkan kemungkinan negaranya bergerak lebih maju.
Dengan berbagai kecurangan yang menghancurkan sendi negara ini, rasanya tak layak untuk merayakan hari pahlawan di hari ini. Hati seperti apa yang bisa menuntun kaki melangkah ke tempat peristirahatan terakhir mereka dan mengabarkan kehancuran negara ini?
Ah, pahlawan negeri, seharusnya kau tinggalkan wasiat untuk menjaga hati dan menebalkan rasa malu agar negeri ini bisa beranjak maju dan tidak hanya berkutat pada urusan kerakusan. Seharusnya kau tulis dengan tinta emas tentang keharusan mencintai negeri ini tanpa syarat.
Tentang kerakusan itu, kubisikkan, betapa banyak orang beberapa hari belakangan ini yang bersumpah demi Tuhan yang disembahnya bahwa mereka tak curang.
Bisakah kau kabarkan pada kami, adakah di antara mereka yang benar?
Senin, 12 Oktober 2009
Pahlawan Negeri, Lupakah Kau Mewasiatkan untuk Mencintai Indonesia Tanpa Syarat?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar