Senin, 03 Mei 2010

Mari Bicara Tentang Kepatuhan

[Bisakah kita sejenak kawan, tak inginkan surga?]

Seorang teman bertahun lalu melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Ketika ada yang bertanya, “cepat sekali?”. Teman itu enteng menjawab, “Saya sudah hapal semua bacaannya”.

Saya ingin terbahak mendengar jawaban konyol itu. Tapi takut Tuhan marah. Jadi saya mencoba menahan tawa meski tetap saja terbahak dalam hati. Kupikir itu cara yang aman [kemudian kutahu, sama sekali bukan.Tetapi juga lalu menjadi bertanya-tanya, benarkah Tuhan suka marah ?]

Sesungguhnya kita semua diperkenalkan kepada Tuhan dengan cara yang menyedihkan. Ingat saja kembali tahun-tahun awal kehidupan kita saat Tuhan pertama kali diperkenalkan. Yang disodorkan kepada kita adalah gambaran surga dan neraka. Pesannya jelas, jika kau berbuat jahat, Tuhan akan menghukum dengan melemparkan tubuhmu ke dalam neraka. Dan jika kau berbuat baik, Tuhan akan memasukkanmu ke dalam surga yang di dalamnya tersedia semua bentuk kesenangan yang dibutuhkan manusia.

Itu sungguh-sungguh pelajaran yang benar. Tapi jelas, hanya pelajaran pertama. Masa kecil saat pengenalan pertama kita kepada Tuhan telah bertahun lewat. Tetapi kita tetap saja melakukan semua aktivitas kehidupan kita dengan alasan yang sama: surga atau neraka. Ayo kita berbuat baik, karena surga sudah tersedia. Awas, jangan sekali-kali berbuat jahat, neraka yang mengerikan sudah menunggu [jadi ingat komik tentang surga dan neraka yang dulu hampir semua kita telah membacanya di masa kecil. Tentang si Saleh dan Karma?]

Tuhan yang Agung dengan segala sifat penyayang dan pengampun, kita dengar kemudian. Tapi itu hampir-hampir seperti angin semilir yang berhembus nyaman lalu menjauh pergi. Kita rasakan sesaat tapi tak menjadi ingatan yang kuat. Segala aktivitas duniawi kita tetap saja bersandar pada alasan yang sama seperti saat kita kecil dulu: surga atau neraka.

Kita hampir-hampir lupa untuk melakukan semua aktivitas kehidupan benar-benar karena ibadah semata-mata. Padahal Tuhan sudah mengingatkan bahwa Ia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahnya. Seharusnya kita bersimpuh pada semua keagungan yang menyertaiNya tanpa harus berhitung apakah kenyamanan surga telah menunggu atau kengerian neraka tengah menanti. Karena surga hanyalah reward dan neraka adalah pengingat.

Surga dan neraka Tuhan bangun untuk menjaga manusia agar tetap berada di jalur yang tepat. Tapi setelah berada di jalur itu, apakah penyembahan kepada Tuhan masih harus beralasankan surga dan neraka? Mengapa kita enggan bergerak maju hingga ke titik di mana kita melakukan semua kebaikan dan menghindari semua bentuk keingkaran karena alasan untuk penyembahan dan kepatuhan semata-mata?

Di tahun-tahun sebelum kehidupan kita, banyak orang yang mampu bergerak maju dalam kehidupan spiritualnya. Mereka beranjak meninggalkan surga atau neraka sebagai alasan utama untuk melakukan semua aktivitas kehidupan. Ibadah dalam semua aspek benar-benar dilakukan sebagai bentuk kepatuhan penuh terhadap sang pencipta. Sementara itu kita tetap saja membiarkan diri berkutat pada keinginan yang begitu kuat akan surga hingga lupa ada yang lebih penting dari hal itu. Menjadi hamba dengan ketaatan tanpa pamrih.

Tidakkah kita iri pada pencapaian Rabiah Al Adawiyah misalnya, yang bisa mengucapkan kalimat “megah” bahwa dia lebih suka dimasukkan neraka dengan ridha Allah dari pada masuk ke surga tanpa ridha Allah? Kalimat itu tentu bukan datang sendiri. Tetapi sebuah pencapaian dari proses belajar yang panjang menjadi hamba sebenar-benar hamba. Proses menuju taat tanpa memikirkan balasan. Kepatuhan dan penyembahan yang hanya terpusat ke titik utama: Allah.

Lalu ketika Dia tersenyum atas sembah yang kita capai, apakah surga dan neraka masih mempunyai nilai?

Rabiah Al Adawiyah menganggapnya tidak. Ia tak perduli Tuhan mau menempatkan dia di mana asalkan Tuhan ridha kepadanya [bolehkah mengartikan ridha dengan: Tuhan sayang kepadanya?]

Rasa sayang Tuhan? Ah itu terlalu abstrak. Kita bawa saja pada kehidupan kemanusiaan kita. Jika kita ingin menyenangkan kekasih hati, kita rela melakukan apapun yang sekiranya bisa membuat matanya bersinar bahagia. Tidak perduli apakah nantinya sang kekasih akan membawamu hidup di istana atau ke gubuk reot. Dan kemudian ketika dia tersenyum dengan mata yang menatapmu penuh cinta, kau akan lupa di mana saat itu kau berada. Karena fisik tak lagi merasa [itu kalau kau punya cinta yang murni. Tak pernah punya? Carilah di relung hati, karena itu hanya ada di sana. Di sudut yang hanya dapat dicapai dalam “hening”].

Sekarang bandingkanlah dengan sayang Tuhan. Maka berbahagialah Rabiah, karena ia tahu, cinta yang terpancar dari wujud agung sang pencipta akan membuat api neraka malu menampakkan panas. Rabiah sungguh paham bahwa saat senyum penuh kasih Tuhan tertuju untuknya, surga akan menunduk, malu menjadi tempat yang dirindu.

Jadi maukah kita sobat, melupakan sejenak keinginan besar kita untuk berlarian riang dalam kemegahan surga? Tidakkah lebih baik mulai saling mengingatkan untuk bergerak lebih maju meninggalkan pelajaran awal kita tentang kepatuhan atas dasar balasan surga dan ketakutan pada neraka? Tak inginkah mencapai dan merasakan sebuah sujud dalam ruang tanpa materi kecuali kita dan Dia?

Jika punya kesempatan meraih cintaNya, mengapa surga yang kita rindu?

Salam,
TanraLam

Tidak ada komentar: